YOGYAKARTA - Rencana reaktivasi jalur kereta api Jogja-Magelang kembali mencuat dengan dipasangnya tiang patok di Secang, Magelang. Bekas-bekas jalur lama itu sebetulnya sudah sulit ditangkap mata. Namun kenangan masih tersimpan lekat di benak orang-orang yang pernah menggunakannya.
Melansir Harian Jogja, pagi itu, Sri Nurtanti waswas. Dia khawatir kecewa jika eyangnya tiba-tiba membatalkan janji yang pernah diucap beberapa hari sebelumnya.
Rasa cemas itu langsung sirna berubah bungah tatkala Secoprawiro, mendiang eyangnya, ternyata pantang mengingkari janji kepada cucunya. Berangkatlah eyang dan cucu berduaan, berjalan kaki menyusuri tepian Selokan Mataram dari Dusun Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman, menuju Stasiun Kutu di Sinduadi, Mlati, Sleman.
Perjalanan cukup panjang sekitar 4,6 kilometer (Km), memakan waktu lebih dari satu jam. Kaki kecil Nurtanti tidak bisa melangkah secepat orang dewasa. Mungkin jika Secoprawiro berjalan sendirian, hanya butuh 45 menit untuk sampai ke Stasiun Kutu.

Setelah cukup jerih melangkahkan kaki, tibalah keduanya di Stasiun Kutu. Nurtanti masih menunggu beberapa puluh menit dengan gelisah. Celingak-celinguk menanti kereta datang. Akhirnya waktu yang dinanti-nanti datang. Lokomotif kekar berwarna hitam melaju pelan dari arah selatan memasuki peron stasiun.
Peluitnya menyalak nyaring. Embusan udara panas yang keluar dari pipa buang pun tak kalah keras. Suara mesin uap itu mendahului kecepatan lajunya, yang untuk ukuran kereta saat ini, teramat lamban.
Asap hitam bergulung-gulung yang keluar dari cerobong di bagian hidung loko, mengepul ke angkasa. Uap berwarna putihnya menyentak dengan cepat dari pipa buang diikuti bunyi, “Jesss...!”
“Jess...! Jesss...! kuuu..kuukkk..!” Nurtanti menirukan suara embusan uap dan peluit uap kereta Lempuyangan-Secang.

Wanita yang kini sudah berusia 66 tahun itu mencoba mengingat-ingat pengalamannya lebih dari 55 tahun lalu, ketika dia masih kanak-kanak, saat kali pertama melihat mesin penarik gerbong dari jarak sebegitu dekat. Dia tak ingat persis tahun dan usianya.
“Masih SD. Yang jelas jauh sebelum Gestapu [Gerakan Tiga Puluh September 1965],” ujar nenek dengan enam cucu itu, Minggu (5/8/2018).
Lokomotif mesin uap itu melintas di hadapannya bak banteng hitam pejal nan kokoh dan berhenti dengan mantap bersamaan suara decit gesekan roda besi bertemu rel. Nurtanti mencoba menghitung roda-roda besi di lokomotif. Ada sepuluh. Enam berukuran besar saling terkait tongkat besi, diapit empat roda berukuran lebih kecil.
(feb)