Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Akan Direaktivasi, Begini Sepenggal Cerita Jalur KA Jogja-Magelang

Agregasi Harian Jogja , Jurnalis-Rabu, 08 Agustus 2018 |14:08 WIB
Akan Direaktivasi, Begini Sepenggal Cerita Jalur KA Jogja-Magelang
Kereta Uap Jogja-Magelang (Foto: Harian Jogja)
A
A
A

Rasa penasaran naik kereta, membuat Nurtanti rela berjalan kaki ke stasiun sekitar satu jam, lalu naik kereta hampir satu jam pula. “Pulangnya pun naik kereta lagi, jalan kaki lagi dari stasiun ke rumah,” kenang Nurtanti.

Namun semua kelelahannya itu terbayar. Ia bisa merasakan duduk di gerbong berkursi kayu, menikmati pemandangan jalan dari sudut berbeda. Apalagi ketika ada sejumlah anak-anak kecil di pinggir rel yang berlari-lari dan berloncatan kegirangan melambai-lambaikan tangan begitu melihat kereta lewat. Semua kenangan itu begitu lekat di ingatannya.

Suryanto, suami Nurtanti, juga punya kenangan naik kereta api Jogja-Magelang yang mirip dengan kisah istrinya. Sewaktu masih kecil pula, ia diajak eyangnya naik kereta yang sama. Pagi hari ia sudah diajak eyangnya dari Godean naik bus ke Stasiun Tugu. Tujuannya lumayan jauh, ke Pati, Jawa Tengah.

Perawatan dan Perbaikan Kereta Api untuk Angkutan Lebaran

Jangan dibayangkan perjalanan itu ditempuh hitungan empat sampai lima jam seperti naik kendaraan pribadi seperti saat ini. “Perjalanannya makan waktu 11 jam,” ungkap pria yang mengisi waktu pensiunnya menjadi notaris itu.

Yang paling dia ingat dalam perjalanan kali itu adalah banyaknya pedagang asongan di setiap halte dan stasiun. Jajanan yang hampir selalu ditemui di stasiun adalah pisang godhog dan kacang rebus. Jajanan itu pula yang menemani perjalanan Suryanto selama belasan jam bersama eyangnya menuju Pati.

Berikan Rasa Aman dan Nyaman, Perawatan Bantalan Rel Kereta Rutin Dilakukan

Kenangan naik kereta Jogja-Magelang memang masih tersimpan lekat di memori orang-orang yang pernah menggunakan moda angkutan massal yang cukup populer pada masanya itu. Namun jalur kereta yang menyimpan banyak kenangan tersebut telah mati bersamaan dengan ambrolnya jembatan kereta di Krasak akibat terjangan lahar hujan pada 1974.

Bangunan stasiun yang jadi titik pemberangkatan dan turun, kini sudah tidak tampak lagi bekasnya. Pun lintasan relnya, hanya secuil masih tersisa. Sebagian besar tertutup tanah atau tertimbun aspal jalan nasional.

(feb)

(Rani Hardjanti)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement