Laman heritage.kai.id menuliskan lokomotif uap berkode C 24 itu adalah mesin peninggalan perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg maatschappij (NIS). Didatangkan 15 unit dari pabrik kereta api Werkspoor Belanda antara 1909 dan 1912, lokomotif ini menggunakan sistem superheater, yakni pembakaran dengan mengalirkan uap bertekanan tinggi dari kubah menuju ke silinder penggerak.
Kendati bobotnya mencapai 42,5 ton, loko ini mampu menghasilkan 575 daya kuda dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 60 km per jam. Kekuatannya itulah yang membuatnya dipilih melayani rute Lempuyangan-Jogja-Magelang-Secang-Temanggung-Parakan. Rute-rute itu relatif menanjak dan melewati kontur kaki gunung di seputaran jalurnya.
Kini bekas lokomotif ini masih tersisa satu unit berkode C2407 dan disimpan di Museum Kereta Api Indonesia, Ambarawa.

Mesin berwarna hitam legam yang bikin Nurtanti kagum itu sebetulnya berseliweran saban hari di Stasiun Kutu, menurunkan penumpang dan mengangkutnya ke arah Magelang atau sebaliknya. Namun Nurtanti selama itu hanya pernah melihat benda tersebut dari jarak jauh. Pun bau asap hasil pembakaran minyak residu yang menjadi bahan bakarnya tidak pernah dia ciumi.
Perjalanan Nurtanti dan eyangnya kali itu bukan hendak melintas kota. Dia hanya ingin mencecap pengalaman naik kereta. Tujuan akhirnya ke Stasiun Medari untuk menyambangi kerabatnya di sana.
Stasiun itu berjarak sekitar 11 kilometer dari Stasiun Kutu, melewati empat pemberhentian yakni Stasiun Beran dan Stasiun Sleman, dan di antaranya diselingi dua halte yakni Mlati dan Pangukan. Di masing-masing pemberhentian, kereta biasa berhenti 5-15 menit. Paling lama berhenti di Stasiun Sleman karena di tempat itu lokomotif harus mengisi air untuk kompresi mesin uap.

“Sebenarnya perjalanan itu ngalang [menempuh rute lebih jauh]. Demi naik kereta saja,” kata Nurtanti yang kini tinggal di Kwagon, Sidorejo, Godean, Sleman, bersama suaminya itu.
Jarak dari rumah tinggal Nurtanti di Dusun Nglarang ke tempat tujuannya di Medari sebetulnya memang hanya 8,2 km. Jika mau ditempuh berjalan kaki, Nurtanti dan eyangnya hanya butuh waktu satu jam 45 menit. Dengan sepeda kayuh tentu lebih cepat. Saat ini, jika ditempuh dengan sepeda motor jarak tersebut bisa dilibas kurang lebih 20 menit.
(feb)