Pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, saham TOWR turun 15 poin atau 2,7% menjadi Rp540. Price to Earning Ratio (PER) sebesar 12,86 kali dengan kapitalisasi pasar Rp27,55 triliun. Sepanjang tahun berjalan, harga saham TOWR melesu 32,5%. Tak jauh berbeda, dalam tiga tahun terakhir harga sahamnya meluncur turun 31,9%.
Selain itu, perseroan juga mengungkapkan, hingga Juni realisasi belanja modal mencapai Rp 1,1 triliun dari yang dianggarkan tahun ini sebesar Rp 2 triliun. Untuk belanja menara terdiri dari menara baru, kolokasi, maintenance, dan bayar sewa lahan ke pemilik lahan. Ada juga untuk non menara seperti VSAT dan fiber optics,” kata Wakil Direktur Utama TOWR Adam Ghifari.
Hingga Juni 2018, TOWR telah menyelesaikan 1.300 pesanan sewa menara. TOWR juga sudah memiliki 6.000 kilometer (km) jaringan fiber optic dari total yang akan dikerjakan sepanjang 8.000 km. “Masih 2.000 kilometer yang sedang dibangun,” tambah Adam.

Selanjutnya memasuki paruh ke dua tahun 2018 Juli 2018 TOWR telah menerima permintaan sebanyak 1.150 menara yang akan dikerjakan perusahaan. Permintaan itu juga diharapkan dapat mendongkrak pendapatan TOWR di semester II-2018. Adapun menurut Adam, upaya belanja TOWR seiringan dengan permintaan operator telekomunikasi yang juga meningkat. Adanya regulasi yang mewajibkan pengguna nomor prabayar untuk registrasi dinilai perusahaan membuat operator telekomunikasi semakin berfokus meningkatkan layanannya dan berdampak positif bagi industri menara telekomunikasi.