JAKARTA - Pemerintah berencana menaikan jumlah barang konsumsi dan bahan baku impor yang akan distop menjadi 900. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari yang sebelumnya hanya 500 barang impor saja.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, hal ini dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk menstabilkan neraca perdagangan. Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang terus melebar.
"Kita akan review 900 barang impor," ujarnya di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (24/8/2018).

Review barang-barang impor itu sendiri akan melibatkan Kementerian dan Lembaga yang terkait. Seperti Kementerian Perdagangan hingga Kementerian Perindustrian.
"Ada 900 komoditas yang kita review bersama Kemendag dan Kemenperin. Kita akan lihat kemampuan industri negeri memenuhinya," jelasnya.
Sri Mulyani menambahkan, saat ini pemerintah sedang melakukan review terhadap 900 barang impor yang akan distop tersebut. Diharapkan pada bulan September 2018 review tersebut bisa rampung dan bisa segera ditetapkan.

Nantinya lanjut Sri Mulyani, 900 barang impor itu sudah terkena pajak penghasilan (PPh) impor pasal 22 dengan tarif yang berbeda-beda. Adapun tarifnya yakni 2,5% lalu 7,5% dan 10% dan tarif ini pun bisa dikredit kan menjadi pembayaran pajak tahun berjalan.
"Barangnya sudah tahu, tapi kapasitas dalam negeri PPh impor yang sesuai serta dampaknya mungkin 1-2 minggu lagi awal September sudah keluar," jelasnya.
Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, produk-produk yang akan distop merupakan barang yang sudah dibutuhkan lagi dan tidak terlalu darurat. Artinya, bagi barang yang sudah diproduksi di dalam negeri maka produk itu lah yang akan distop impornya.
"Barang-barang yang sudah diproduksi dalam negeri khususnya oleh industri kecil menengah. Kami bersama Mendag akan melakukan langkah yang sangat tegas kendalikan barang konsumsi, 900 komoditas impor," jelasnya.
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.