nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekspor Mebel RI Harus Bersaing dengan Produk Vietnam hingga China

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Kamis 27 September 2018 18:33 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 27 470 1956513 ekspor-mebel-ri-harus-bersaing-dengan-produk-vietnam-hingga-china-kOK1AxEF53.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan, saat ini untuk memacu ekspor, Indonesia harus bersaing dengan produk Vietnam dan China.

Sekretaris Jenderal HIMKI Abdul Sobur mengatakan, kendala utama dengan persaingan ini adalah lebih mahalnya harga jual produk Indonesia. Padahal untuk jenis dan tipe produk yang sama.

“Sekarang kami pasang strategi produk yang tidak mereka jual, artinya volume permintaan pasar jauh lebih kecil,” katanya di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

 Baca Juga: Kalah Saing dengan Vietnam, Industri Mebel RI Cari Pasar Baru

Meski sejumlah masalah menghambat ekspor produk mebel Indonesia, Pihaknya menyatakan tetap berupaya target yang telah dicanangkan dapat terealisasi dengan menggerakan seluruh anggota asosiasi.

 

Menurutnya, meski ekspektasi tinggi, realitas ekspor jauh berada di bawah target. Asosiasi menargetkan ekspor produk mebel dan kerajinan senilai USD1,9 miliar atau tumbuh 9% pada tahun ini.

Namun dalam catatan asosiasi dengan mengumpulkan berbagai data, ekspor baru USD1,3 miliar. Sedangkan pada 2016 lalu realisasi ekspor baru USD1,65 miliar.

“Artinya dalam 3 bulan harus dikejar USD200 juta per bulan untuk mengejar target ini,” jelasnya.

 Baca Juga: Masih Banyak Regulasi yang Hambat Ekspor Mebel

Untuk itu, pengusaha mebel dan kerajinan meminta pemerintah menjamin ketersediaan baku agar target ekspor dapat tercapai. Saat ini Indonesia merupakan negara sumber bahan baku kerajinan ketiga terbesar di dunia. Negara yang mempunyai stok bahan baku mebel di atas Indonesia hanya Brazil dan Zaire. Akan tetapi capaian penjualan ekspor produk Indonesia kalah dibandingkan negara non pemasok bahan baku seperti China hingga Vietnam.

“Artinya harusnya kami bisa punya ekspor besar. Karena itu, kami minta pemerintah jamin ketersediaan bahan baku,” kata Sobur.

Sobur menyatakan kekhawatiran bahan baku terutama adanya permintaan Indonesia kembali membuka ekspor barang mentah seperti kayu log maupun rotan.

Sobur menyebutkan target ekspor diharapkan dapat dipacu dengan diselenggarakannya Indonesia Trade Expo. Meski begitu, ia tidak terlalu yakin ajang pameran multi produk itu dapat memacu target penjualan.

“Karena kami hanya jadi bagian kecil, digabung dengan produk lain. Jadi kurang begitu optimal. Seharusnya ada pameran besar terpisah,” katanya.

Di sisi lain, pameran International Furniture Manufacturing Components Exhibition (IFMAC) dan pameran Woodworking Machinery (WOODMAC) mempersiapkan industri untuk meciptakan hasil produksi dan kinerja manufaktur yang lebih baik dengan menerapkan teknologi dan solusi baru yang dihadirkan pada pameran tahun ini.

Sebagai pameran dagang terpenting di Indonesia untuk pengadaan komponen manufaktur furnitur dan teknologi pertukangan, IFMAC dan WOOMAC pada tahun 2018 ini akan menghadirkan teknologi-teknologi dengan kualitas terbaik untuk industri furniture Indonesia yang sedang berkembang' melalui produk-produk siap pakai, mesin, peralatan, dan sistem yang akan lebih memperkuat industri furnitur Indonesia.

Tahun ini, pameran diikuti lebih dari 300 perusahaan dari 23 negara, area pameran meningkat 25% dibandingkan tahun lalu.

Menurut General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur Sofianto Widjaja selaku penyelenggara pameran, seiring dengan persaingan ketat yang dihadapi oleh industri furnitur dan kerajinan kayu Indonesia, peningkatan partisipasi perusahaan internasional dan pemain-pemain besar dalam negeri memungkinkan pertukaran pengetahuan dan adopsi teknologi yang lebih baik dan menguntungkan bagi bisnis furnitur yang sedang berkembang di seluruh Indonesia.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini