nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sudah Siapkah RI Pakai Listrik dari Tenaga Nuklir?

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 11:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 09 320 1961488 sudah-siapkah-ri-pakai-listrik-dari-tenaga-nuklir-DcdUEucgIi.jpg PLTN (Foto: Reuters)

TANGERANG - Indonesia siap memasuki zaman nuklir. Pengalaman selama puluhan tahun menggunakan energi nuklir untuk kebutuhan nonenergi menjadi modalnya.

Sejak pertama dikenalkan pada 1954, untuk penyelidikan kemungkinan adanya jatuhan radioaktif dari uji coba senjata nuklir di lautan Pasifik, pemanfaatan teknologi nuklir untuk nonenergi telah berkembang pesat. Meski demikian, bukan berarti pemanfaatan tenaga nuklir untuk energi tidak pernah dilakukan.

Sebaliknya, pihak Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) terus melakukan penelitian pengembangan teknologi ini. Salah satunya dengan pembuatan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang bisa menghasilkan listrik dengan kapasitas 10 MWt atau setara 3 MWe dan bisa dipakai untuk penerangan 2.000 rumah warga.

Meski pembuatan reaktor daya ini baru masuk tahap rencana detail design engineering (DED), tapi teknologi yang akan dipakainya, yakni High Temperature Gas Coolled Reactor (HTGR) sudah disiapkan. Fasilitas nuklir sebagai penunjang RDE juga sudah ada dan berkembang di area yang akan dijadikan pengembangan nuklir energi listrik, cikal bakal reaktor merah putih ini.

Baca Juga: Batan Targetkan Reaktor Nuklir Dibangun Tahun 2020

Kepala Bagian Humas Batan Purnomo mengatakan, sumber daya manusia (SDM) akan menjalankan teknologi nuklir reaktor daya itu juga sudah siap dan telah memiliki pengalaman yang panjang.

“Dari sisi SDM, Batan telah siap, karena Batan mempunyai Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) yang berada di Yogyakarta setiap tahunnya meluluskan sekitar 100 orang,” katanya.

Selain STTN, beberapa perguruan tinggi seperti UGM dan ITB juga sudah mulai mempunyai jurusan berkaitan dengan teknologi nuklir. Para tenaga muda inilah akan menjadi penerus riset reaktor. “Jadi, apabila ditanya kesiapan bangsa Indonesia menyongsong tumbuhnya industri nuklir di Indonesia, SDM Indonesia sangat siap dan berlimpah,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan pemanfaatan tenaga nuklir untuk kebutuhan nonenergi di kehidupan sehari-harinya, seperti di bidang pertanian, industri, kesehatan, dan lingkungan hidup.

“Disadari atau tidak, masyarakat kita sudah sering memanfaatkan teknologi nuklir dalam kehidupan sehari-hari, terutama di bidang nonenergi. Tapi khusus energi listrik, belum termanfaatkan,” ungkapnya.

Padahal potensi tenaga nuklir di bidang energi sangat besar. Bukan hanya untuk listrik atau penerangan jalan dan kawasan permukiman, tetapi juga untuk kebutuhan industri-industri besar dan lainnya. “Untuk itulah perlu adanya edukasi kepada masyarakat berupa contoh atau bukti nyata bahwa teknologi nuklir bisa menjadi satu solusi penyediaan energi listrik,” ujarnya.

Baca Juga: Contek Jepang, Pemerintah Siapkan Roadmap Pembangunan Energi Nuklir

Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto menambahkan, apabila RDE dibangun, tentu ini akan menjadi reaktor ke-4 yang dimiliki Batan setelah reaktor di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong.

“Kalau tiga reaktor riset yang ada saat ini dimanfaatkan neutronnya untuk melakukan penelitian dan produksi radioisotop. Sedangkan RDE yang dimanfaatkan adalah panasnya untuk listrik,” ujar Djarot.

Tolak Pembangunan PLTN

Reaktor GA Siwabessy misalnya. Reaktor ini merupakan reaktor riset terbesar di wilayah Asia Pasifik. Sejauh ini ketiga reaktor yang dimiliki Indonesia beroperasi untuk penelitian dan produksi radioisotop.

“Pemanfaatan teknologi nuklir untuk energi di dunia telah banyak diaplikasikan. Saat ini China merupakan negara paling getol dalam membangun PLTN untuk kebutuhan energi listrik nasionalnya,” ungkapnya.

Paling mencengangkan adalah Uni Emirat Arab yang notabene telah mempunyai sumber minyak melimpah, tapi saat ini menggarap proyek PLTN untuk kebutuhan listrik nasionalnya. “Manfaat energi nuklir ini sangat banyak, pertama, bisa memberi penerangan umum, misalnya jalan dan fasilitas lainnya atau kalau diperbolehkan pemerintah untuk penerangan 2.000 rumah warga,” katanya. (Hasan Kurniawan)

(Feb)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini