Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam menjelaskan, salah satu penyebab Rupiah menguat berasal dari kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebanyak 150 basis points (bps) hingga Oktober lalu. Di mana Bank Sentral AS (The Fed) baru menaikkan suku bunga acuannya (Fed Federal Reserve/FFR) sebanyak 100 bps.
Hal ini membuat spread imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) lebih melebar dari surat berharga di AS. "Dengan yield yang lebih tinggi, SBN menjadi lebih menarik. Sentimen positif ini mendorong masuknya kembali investor asing ke pasar SBN sekaligus memperkuat Rupiah," ujarnya Rabu (7/11/2018).
9. Menkeu Sri Mulyani mengungkapkan bahwa kebijakan pemerintah adalah alasan mengapa Rupiah menguat
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, hal ini didorong berbagai strategi kebijakan pemerintah baik juga dari Bank Indonesia (BI), maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong stabilitas ekonomi dan sektor keuangan.
Hal ini terlihat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang berada di level atas 5%, inflasi yang terjaga di bawah kisaran 3,5%, hingga rasio Produk Domestik Bruto (PDB) yang di level 0,38. Kondisi ini pun disadari menjadi perbedaan Indonesia dari negara-negara lainnya di tengah gejolak ekonomi global.
"Sehingga lama-lama mereka (investor) juga akan melihat bahwa ada sentimen positif," katanya di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.