nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rasio Utang Indonesia 30%, Sri Mulyani: Kita Terendah

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 03 Desember 2018 15:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 03 20 1986147 rasio-utang-indonesia-30-sri-mulyani-kita-terendah-qfauO4hlg9.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Okezone

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan utang Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal tersebut dia pastikan saat menghadiri pertemuan negara-negara anggota G20 di Argentina beberapa waktu lalu.

Menurut Sri Mulynai, saat ini rasio utang Indonesia berada di angka kisaran 30%. Angka tersebut masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di dunia khususnya yang termasuk dalam anggota G20 itu sendiri.

"Indonesia mungkin rasio utang 30%, kita termasuk yang terendah. Tetapi negara lain posisinya sangat berbeda," ujarnya saat ditemui di acara CEO Networking di Ritz Carlton SCBD, Jakarta, Senin (3/12/2018).

Baca Juga: Utang Pemerintah Disebut untuk Impor, Menko Luhut: Asbun

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjelaskan, ada beberapa negara yang rasio utangnya sangat tinggi terhadap Gross Domestic Product (GDP). Namun ada juga beberapa negara juga yang pertumbuhan ekonominya tumbuh dengan utang yang terbatas.

Artinya terhadap negara-negara yang rasio utangnya rendah tersebut bukan berarti mereka tidak mengutang untuk mengembangkan perekonomian negaranya. Akan tetapi menurutnya, itu juga menjadi sebuah masalah bagi negara tersebut.

Terbatasnya utang terhadap negara tersebut bukan berarti ekonomi dari negara tersebut bagus. Karena jika perekonomian negara tersebut bagus, maka akan banyak lembaga pemberi pinjaman yang mempercayakan uangnya kepada negara tersebut'

"Yang ini diskusikan cukup panjang mereka memiliki rasio utang memang ada beberapa negara yang eksposurenya tinggi terhadap GDP. Mereka tumbuh dengan utang terbatas dan ini akan menjadi salah satu beban," jelasnya.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Tumbuh Melambat, Tercatat USD359,8 Miliar pada Akhir Kuartal III

Sebagai informasi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat utang pemerintah hingga Oktober 2018 sebesar Rp4.478,57 triliun. Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 1,4% dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya Rp4.416,37 triliun.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Oktober 2017, utang pemerintah naik Rp584,97 triliun. Di mana pada Oktober tahun lalu, utang pemerintah masih dikisaran Rp3.893,60 triliun.

Adapun, komponen utang pemerintah masih berasal dari pinjaman yang sebesar Rp833,92 triliun, sedangkan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp3.644,65 triliun.

Jika dirinci, untuk pinjaman luar negeri sebesar Rp827,57 triliun, yang terdiri dari bilateral sebesar Rp334,63 triliun, multilateral sebesar Rp446,94 triliun, komersial sebesar Rp46 triliun dan suppliers tidak ada alias nihil. Sedangkan pinjaman dalam negeri sebesar Rp6,35 triliun.

Selain berasal dari pinjaman, utang pemerintah juga berasal dari SBN. Adapun angkanya adalah sebesar44,65 triliun atau 81,38% dari total utang pemerintah per Oktober 2018.

SBN tersebut terbagi dalam dua mata uang, untuk yang berdenominasi rupiah sebesar Rp2.570,54 triliun dengan rincian SUN sebesar Rp2.149,64 triliun dan SBSN sebesar Rp 420,89 triliun.

Untuk SBN yang berdenominasi valas sebesar Rp1.074,12 triliun dengan rincian SUN sebesar Rp838,10 triliun dan SBSN sebesar Rp236,02 triliun.

Sementara itu, pembiayaan. lewat utang hingga 31 Oktober 2018 sebesar Rp333,72 triliun. Angka tersebut turun 19,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini