nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kata Sri Mulyani soal Utang BUMN yang Tembus Rp2.488 Triliun

Kamis 06 Desember 2018 20:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 12 06 320 1987822 kata-sri-mulyani-soal-utang-bumn-yang-tembus-rp2-488-triliun-hgr9LrjW3b.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Okezone

NUSA DUA - Berdasarkan catatan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), utang 143 perusahaan pelat merah hingga September 2018 telah mencapai Rp2.488 triliun.

Menanggapi utang BUMN tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan bahwa hal ini harus dilihat secara keseluruhan detail kondisinya. Sebab, kata dia, ada beberapa BUMN yang kendati memiliki banyak utang, tapi juga masih memiliki pendapatan yang tinggi.

Baca Juga: Utang Tembus Rp5.271 Triliun, Kementerian BUMN: Masih Dalam Kondisi Aman

"Lalu beberapa BUMN dapat penjaminan dari pemerintah, makanya kita harus perhatikan detail kondisi keuangannya. Beberapa leverage-nya naik tapi kita berikan injeksi ekuitas yang naik juga. Lihat BUMN yang utangnya banyak, tapi ekuitasnya tinggi ya itu enggak apa-apa. Tapi kalau utangnya banyak lalu enggak punya ekuitas itu yang harus diperhatikan," papar Sri Mulyani di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018).

Dia pun percaya bahwa Menteri BUMN Rini Soemarno bisa mengatasi kondisi perusahaan pelat merah yang dibawahinya. Terlebih, kata Sri Mulyani, dia dan Menteri BUMN Rini Soemarno terus memonitor kinerja perusahaan BUMN. "Kita dan menteri BUMN terus monitor, neracanya harus kita jaga," tegasnya.

Baca Juga: Daftar 10 BUMN dengan Utang Terbesar, BRI Juara dengan Rp1.008 Triliun

Sebagai informasi, Kementeria BUMN menyebutkan bahwa total liabilitas BUMN per September 2018 (unaudited) mencapai Rp5.271 triliun. Sementara total aset BUMN mencapai Rp7.718 triliun, meningkat Rp508 triliun dari Rp7.210 triliun per Desember 2017.

Kementerian BUMN menyatakan utang BUMN tersebut masih aman, mengacu pada rasio utang dan ekuitas (debt to equity ratio/DER) yang masih lebih baik dibandingkan dengan rata-rata industri.

Misalnya untuk sektor transportasi, DER BUMN sebesar 1,59 kali sementara rata-rata industri di posisi 1,96 kali. Kemudian, untuk sektor energi, DER BUMN 0,71 kali, sementara rata-rata industri 1,12 kali. Di sektor telekomunikasi, DER BUMN di posisi 0,77 kali, sementara industri pada posisi 1,29 kali.

Rina Anggraeni-Sindonews

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini