nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Alasan Generasi Milenial Harus Cepat-Cepat Beli Rumah

Sabtu 15 Desember 2018 07:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 14 470 1991174 5-alasan-generasi-milenial-harus-cepat-cepat-beli-rumah-mNv4CMGsJt.jpeg Foto Rumah: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Akhir-akhir ini kalangan milenial sering dijejali informasi bahwa mereka tidak akan mampu membeli rumah. Alasannya harga rumah saat ini tidak sebanding dengan pendapatan mereka, ditambah gaya hidup mereka yang boros membuat milenial tak akan sanggup mencicil rumah.

Hal ini diperkuat dengan hasil survey Rumah123 yang menyatakan bahwa hanya 5 persen kalangan milenial yang sanggup membeli rumah. Namun, banyak kalangan juga yang membantah pernyataan tersebut. Bahkan generasi milenial dianjurkan untuk segera membeli rumah dengan lima alasan di berikut yang dilansir dari CekAja.com:

Baca Juga: Pertumbuhan Industri Properti 2019 Diprediksi Hanya 10%

Dukungan dari pemerintah

Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyiapkan program yang bisa menjangkau milenial sanggup membeli rumah. Program tersebut tetap menggunakan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

Nantinya, kalangan milenial yang berencana membeli rumah akan dapat subsidi dari pemerintah. Program ini sebelumnya sudah berjalan, namun bagi generasi milenial, pemerintah akan menyiapkan skema khusus.

Beberapa contoh kemudahan bagi milenial agar bisa membeli rumah antara lain pemberian bunga rendah, tidak ada batasan uang muka, bebas memilih tipe rumah hingga uang muka dengan besaran yang relatif rendah.

Jadi jika banyak kemudahan yang akan diberikan, tak ada lagi alasan Anda sebagai milenial untuk memiliki rumah.

rumah

Usia produktif

Generasi milenial yang lahir antara tahun 1982 – 1995 tergolong sebagai kaum produktif. Artinya, kelompok usia ini masih bisa mendapatkan banyak pemasukan dan semangat kerja yang masih menggebu-gebu.

Dengan demikian, kalangan milenial bisa membuktikan jika mereka bisa memiliki pendapatan lebih dari satu sumber. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang usianya jauh lebih tua yang dinilai tidak produktif lagi.

Baca Juga: Daftar Miliarder Properti dengan Kekayaan Terbesar di Dunia

Harga rumah terus naik

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mungkin pertanyaan ini cocok dilontarkan kepada generasi milenial yang sering menunda untuk memiliki hunian. Mereka harus sadar bahwa harga properti setiap tahunnya naik drastis.

Dengan demikian, jika tidak memaksakan membeli hunian dari sekarang, khawatir di masa yang akan datang harga hunian malah lebih mahal.

Sebagai contoh, harga rumah ukuran 70/36 di tahun 2018 dihargai Rp350 juta. Bisa jadi 2-3 tahun kemudian harga rumah tersebut sudah naik jadi Rp500 juta hingga Rp600 juta.

Oleh karena itu, jika membeli rumah dari sekarang, paling tidak seiring nilai uang yang akan terus menurun akan memberikan keringanan cicilan kepada Anda.

Lahan makin terbatas

Cari rumah di lokasi strategis saat ini makin susah. Kalau mau, Anda cari lokasi-lokasi di pelosok yang aksesnya cukup sulit ditempuh kendaraan. Semakin terbatasnya lahan, maka akan semakin mempersulit Anda mendapatkan hunian.

Mumpung belum lahannya benar-benar kehabisan, mending dari sekarang Anda mulai survey ke lokasi-lokasi perumahan mana yang strategis dan nyaman untuk hunian. Jangan tunggu besok atau nanti, sebelum lahan atau lokasi strategis untuk hunian keburu diambil orang.

rumah

Tenor fleksibel

Jika Anda termasuk dalam generasi milenial, berarti usia Anda saat ini antara 24 tahun hingga 37 tahun. Sementara tenor cicilan yang biasa diberikan oleh perbankan maksimal mencapai 25 tahun.

Nah, mumpung Anda masih berusia tergolong muda, Anda bisa memilih tenor cicilan mulai dari 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun hingga 25 tahun. Sesuaikan besaran cicilan rumah Anda dengan tenor yang sekiranya Anda mampu bayar cicilan.

Dan yang harus diperhatikan adalah, jika Anda ingin membeli rumah, ubahlah gaya hidup dari yang sebelumnya boros menjadi lebih produktif. Anda bisa mulai berinvestasi atau menabung misalnya. Dengan begitu Anda bisa atur cara pengelolaan keuangan menjadi lebih terencana.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini