nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Minuman Beralkohol Naik Drastis pada November, Nilainya Tembus Rp1 Triliun

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 17 Desember 2018 17:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 12 17 320 1992484 impor-minuman-beralkohol-naik-drastis-pada-november-nilainya-tembus-rp1-triliun-0DYFuFN7lX.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data impor November 2018 sebesar USD16,88 miliar. Angka ini mengalami penurunan 4,47% bila dibandingkan dengan Oktober 2018 yang sebesar USD17,62 miliar.

Sementara bila dibandingkan dengan realisasi impor pada November 2017 yang sebesar USD15,11 miliar, maka terjadi peningkatan sebesar 11,68%.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan pada sektor non migas, komoditas yang mengalami peningkatan impor tertinggi yakni minuman sebesar USD75,3 juta setara Rp1,09 triliun (kurs Rp14.600 per USD), besi dan baja sebesar USD64,7 juta, serta sayuran USD57 juta. 

"Peningkatan terbesar itu minuman USD75,3 juta," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Gedung BPS Pusat, Senin (17/12/2018).

Baca Juga: Meski Turun 4,47%, Menkeu Soroti Impor Migas

Berdasarkan data BPS peningkatan impor minuman didorong oleh alkohol murni dengan kekuatan alkohol terhadap volume tidak melebihi 99%. Impor minuman ini meningkat drastis yakni 6.437.974%, di mana pada Oktober 2018 sebesar USD1.025 menjadi USD77,57 juta pada November 2018.

Kemudian didorong peningkatan impor sparkling mineral dari Oktober 2018 sebesar USD300 ribu menjadi USDS1 juta di November 2018 atau naik 254%. Ketiga, mimunan Wine mengalami peningkatan 78,07% yakni menjadi USD540 ribu di November 2018 dari sebelumnya USD303 ribu di Oktober 2018.

Pria yang dipanggil Kecuk ini juag menyatakan, terdapat komoditas yang mengalami penurunan impor terendah yakni ampas atau sisa industri makanan USD130 juta, serealia turun USD104,3 juta, dan mesin atau pesawat mekanik turun USD93,8 juta.

"Adapun penurunan impor terbesar ada pada komoditas mesin atau peralatan listrik sebesar USD201,1 juta dan bahan bakar mineral sebesar USD141,7 juta," sebutnya.

Baca Juga: Impor Sayur Meningkat Drastis, Paling Banyak dari China

Untuk diketahui, BPS mencatat neraca perdagangan pada November 2018 mengalami defisit sebesar USD2,05 miliar. Kondisi ini semakin dalam dari defisit di Oktober 2018 yang sebesar USD1,82 miliar.

Adapun defisit November 2018 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Secara rinci, laju ekspor Indonesia pada Oktober 2018 sebesar USD14,83 miliar, sementara laju impor mencapai USD16,88 miliar.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini