nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasar Modal RI Dibanjiri Dana Asing

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 08 Januari 2019 12:42 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 08 278 2001446 pasar-modal-ri-dibanjiri-dana-asing-oYqZvw3Rfi.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Indonesia mendapatkan banyak limpahan modal asing sebagai dampak penutupan sebagian layanan pemerintahan federal (government shutdown) di Amerika Serikat.

Tercatat dalam sepekan terakhir dana asing yang masuk ke Indonesia melalui pasar modal tercatat Rp2 triliun.

“Dalam sepekan terakhir Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif 1,56% dengan nett buy asing menembus Rp2 triliun,” ujar Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira di Jakarta, kemarin.

 Baca Juga: Presiden Jokowi: Pelaku Pasar Modal Layak Mendapat Apresiasi

Menurut Bhima, government shutdown ini ibarat blessing in disguise bagi Indonesia karena semakin buruk konflik politik di AS, semakin banyak aliran modal pindah ke Indonesia.

“Akibatnya, rupiah menguat signifikan ke level Rp14.075 per USD atau 2% dalam sepekan terakhir,” katanya.

Bhima memprediksi ekonomi AS tahun ini akan melambat di 2,5%. Hal ini ditunjukkan oleh Fed Rate yang hanya naik dua kali dibanding empat kali tahun 2018. Selain government shutdown , efek perang dagang AS-China yang berlanjut dan efek reformasi perpajakan Trump yang habis menjadi pemicu lambatnya ekonomi AS.

“Ini bisa berlanjut hingga 2020 di mana AS menghadapi pemilu,” ujarnya.

 Baca Juga: Investor Berpenghasilan di Atas Rp10 Juta Mendominasi Pasar Saham Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan ada beberapa dampak yang akan terjadi atas kejadian government shutdown.

Pertama, tidak adanya stimulus fiskal sehingga akan menyebabkan geliat ekonomi AS tidak setinggi sebelumnya. “Diperkirakan tahun 2019 ekonomi AS akan turun dari 2,5% menjadi 2%,” ujar Perry di Jakarta, kemarin.

Kedua, hal tersebut akan menurunkan confidence pasar terhadap kinerja ekonomi AS ke depannya. Karena itu, terjadi koreksi di harga saham yang kemudian memberikan dampak kurang bagus terhadap keuangan AS. Akan tetapi, perlu dicermati sekarang adalah bagaimana kelanjutan positif dari perundingan perdagangan antara AS-China.

“Kan semakin hari semakin ada tanda titik temu untuk mencari kesepakatan- kesepakatan. Kan ketegangan AS-China akan memberikan dampak negatif terhadap ekonomi kedua negara itu,” ujarnya.

Menurut Perry, ekonomi AS dan China akan lebih rendah kalau ketegangan terus terjadi dan hal itu tidak baik bagi pertumbuhan ekonomi global.

“Namun, berita positif ada tanda-tanda perundingan perdagangan. Semoga itu tidak memperburuk situasi dan keuangan global,” ungkap dia. (Kunthi Fahmar Sandy)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini