nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dana Asing Rp6,8 Triliun Masuk RI Bikin Rupiah Menguat

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 11 Januari 2019 14:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 11 278 2003112 dana-asing-rp6-8-triliun-masuk-ri-bikin-rupiah-menguat-M0EfHvpWTL.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengungkapkan, pergerakan nilai tukar Rupiah untuk Minggu pertama pada Januari 2019 cukup baik di tengah sentimen global seperti perang dagang AS-China.

"Kemudian kalau kita melihat statement dari The Fed cukup dovish artinya mereka masih menimbang untuk kenaikan Federal Funds Rate (FFR) tahun depan. Itu akan menenangkan pasar keuangan secara keseluruhan," ujarnya di Gedung BI Jakarta, Jumat (11/1/2019).

 Baca Juga: Dana Asing Masuk RI Capai Rp22,9 Triliun

Kenaikan FFR, lanjut dia, kemungkinan masih akan terjadi cuma secara frekuensi mungkin lebih kecil dari pada dugaan awal tahun ini. Di mana dari sisi domestik mendorong inflow yang masih besar pada Januari secara year to date.

"Kalau kita lihat inflow-nya sendiri netto sampai dengan minggu pertama Rp6,8 triliun ekuivalen, masuk melalui Surat Berharga Negara (SBN), saham, obligasi korporasi dan SBN syariah. Gambarannya positif membuat Rupiahnya sendiri kalau kita lihat mengalami apresiasi ytd 1,8%," jelasnya.

Apakah nilai tukar Rupiah akan menguat ke Rp13.800 per USD?. Dia menuturkan bahwa, pihaknya tidak bicara level, namun BI akan menjaga fundamental Rupiah,

"Untuk risiko pelemahan Rupiah, apakah seperti tahun lalu? Kita (BI), melihatnya jangka pendek dulu ya karena kita melihat ketidakpastian atau uncertainty-nya masih ada dari sisi global, pertama kalau kita melihat perekonomian di Eropa sendiri masih akan bias ke bawah," tuturnya.

 Baca Juga: Pagi Ini Rupiah Menguat ke Rp14.070/USD

Dia menambahkan, bahwa China sendiri mengkoreksi pertumbuhan ekonominya. Kebijakan kemarin melakukan pemotongan reserve requirement itu salah satu bagian untuk menahan perlambatan ekonomi.

"Jadi secara global di Eropa, di Jepang, China kemungkinan mereka mengkoreksi pertumbuhan ekonomi ke bawah," ungkapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini