nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Rupiah Sepanjang 2018, Sri Mulyani: Kita Enggak Terlalu Buruk

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 12:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 31 278 2011830 soal-rupiah-sepanjang-2018-sri-mulyani-kita-enggak-terlalu-buruk-QQS3jLyUzn.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Yohana/Okezone

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, perekonomian sepanjang tahun 2018 dihadapkan tantangan yang sulit. Terjadi gejolak ekonomi dunia, salah satunya dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed dan kebijakan pengetatan likuiditas negara tersebut.

Kebijakan normalisasi moneter oleh The Fed itu berimbas pada semua mata uang negara di dunia, terlebih pada negara emerging market. Nilai tukar Rupiah juga terus terdepresiasi sepanjang tahun lalu.

"(Kondisi di 2018) menggambarkan dampak yang dilakukan Jerome Powell itu sistemik ke seluruh dunia. Tedampak ke emerging country bahkan ke advance country," kata dia dalam acara DBS Asian Insight Conference di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Baca Juga: Pukul Dolar, Rupiah Menguat ke Rp14.065/USD

Kebijakan moneter AS pun direspons Bank Indonesia (BI) dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 175 basis points (bps) di tahun 2018, untuk menstabilkan nilai tukar. Hingga akhir Desember 2018, Rupiah tercatat terdepresiasi mencapai 6,9%.

"Jadi kita enggak terlalu buruk, kita juga enggak sepenuhnya tidak terdepresiasi. Jadi kita OK," imbunya.

Menurut Sri Mulyani, pergerakkan kurs Rupiah di 2018 bukan menunjukkan kelemahan Indonesia, melainkan kemampuan menyesuaikan diri dengan gejolak ekonomi global. "Fleksibilitas Rupiah bukan tanda kelemahan, justru menunjukkan kemampuan Indonesia mengabsorb shock melalui adjustment dari nilai tukar," katanya.

rupiah

Dia menjelaskan, bila suatu negara tak mengalami perubahan kurs mata uangnya akibat kebijakan AS, dimungkinkan karena negara tersebut melakukan manipulasi. Sehingga seolah-olah mata uang mereka sama sekali tidak terdepresiasi. Namun menurutnya hal tersebut justru sangat berisiko karena dapat menimbulkan breakdown terhadap perekonomian secara keseluruhan.

"Tahun 97-98 kita punya pengalaman itu, di mana nilai tukar, dan kemudian saat enggak mampu, ekonomi breakdown," ucapnya.

Menurutnya, pergerakkan kurs yang menyesuaikan gejolak ekonomi dunia menjadi bagian dari daya tahan perekonomian Indonesia. "Fleksibilitas merupakan bagian dari daya tahan perekonomian, selama kita mampu jaga fleksibilitas tidak menjadi volatilitas yang terlalu ekstrim," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini