Sri Mulyani Nilai Permintaan IMF Pangkas Utang Tak Relevan dengan Indonesia

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 22 Januari 2019 17:58 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 22 20 2007943 sri-mulyani-nilai-permintaan-imf-pangkas-utang-tak-relevan-dengan-indonesia-5MxIl4RVlh.jpeg Menteri Keuangan Sri Mulyani. Foto: Okezone

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 hanya akan tumbuh 3,5%. Prediksi ini turun 0,2% bila dibandingkan dengan proyeksi yang dibuat pada Oktober 2018 lalu.

Dengan kondisi demikian, IMF meminta negara-negara di dunia memangkas utang pemerintahnya untuk meminimalisir risiko ketidakpastian di pasar keuangan global.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, saat ini rasio utang pemerintah masih terjaga sebab masih berada di level 30% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sehingga, tidak relevan bila Indonesia diminta untuk mengurangi utang pemerintah.

Baca Juga: Ekonomi Global Melambat, Ekspor Bisa Tertekan

"Indonesia utang terhadap PDB masih di 30% untuk standar internasional itu rendah sekali," kata dia ditemui di kawasan Cikini, Selasa (22/1/2019).

Dia menjelaskan, beberapa negara maju bahkan memiliki rasio utang terhadap PDB negaranya hingga 60%-100%. Maka, negara-negara tersebut yang relevan untuk mengurangi utang pemerintahnya.

"Waktu kemarin annual meeting disampaikan ada lebih dari 40 negara low income country yang sekarang utangnya tidak sustainable di atas 100%. Indonesia kalau dibandingkan, utang kita terhadap GDP masih di 30%. Untuk standar internasional itu rendah sekali," katanya.

Selain itu, kondisi fiskal Indonesia juga didukung defisit APBN yang menurun ke 1,76% terhadap PDB. Tak seperti negara lainnya seperti Italia yang defisitnya mencapai 2% terhadap PDB dan rasio utang di atas 60% terhadap PDB.

grafik

"Italia itu yang menjadi sorotan. Italia itu rasio utang terhadap PDB-nya di atas 100% tapi dia ingin defisitnya di atas 2,4%," tutur dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menilai, negara seperti Italia yang relevan untuk mengurangi utang pemerintahnya, sebab harus menjaga keseimbangan fiskal dengan mengurangi defisit.

"Bagaimana kurangi defisit dan utang tanpa membuat pertumbuhan ekonomi melemah. Kalau pertumbuhan ekonomi melemah, utangnya menurun, maka artinya rasio utang tidak akan menurun," papar dia.

Di sisi lain, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terjaga di 5%. Sehingga pernyataan IMF tersebut dinilai tidak relevan untuk Indonesia. "Indonesia sekarang pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan defisit (APBN) di bawah 2% jadi tidak relevan statement (IMF) itu untuk Indonesia," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini