nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Korsel Pertahankan Predikat sebagai Negara Paling Inovatif di Dunia

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 26 Januari 2019 11:14 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 26 320 2009680 korsel-pertahankan-predikat-sebagai-negara-paling-inovatif-di-dunia-fyYIHBAnHd.jpg Foto: Reuters

NEW YORK - Korea Selatan (Korsel) berhasil mempertahankan predikat sebagai negara paling inovatif di dunia pada 2019 dalam Indeks Tahunan Inovasi Bloomberg.

Sementara itu, Jerman berada di posisi ke dua meski mengalami perbaikan dalam penelitian dan pendidikan. Pakar ekonomi Bayerische Landesbank, Juergen Michels, mengatakan Jerman merupakan negara maju dan menjadi pengekspor terbesar di Eropa.

Namun Jerman di guncang berbagai tantangan nasional sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya ialah kurangnya pekerja terampil dan perubahan kebijakan imi grasi.

“Jerman juga masih perlu mematangkan strategi di sektor teknologi tingkat tinggi seperti industri semisal diesel, komunikasi digital, dan kecerdasan buatan,” imbuh Michels seperti dikutip Bloomberg.

Baca Juga: Cerita Jokowi soal Industri Film Korea Selatan

Amerika Serikat (AS) masuk 10 besar, di posisi ke delapan. Setahun sebelumnya AS keluar dari posisi 10 besar untuk pertama kali. Albert Bourla, Chief Executive Of ficer Pfizer, mengatakan siklus produk di AS berlangsung le bih cepat dan persaingan semakin ketat sehingga meng ubah cara para manajer untuk bekerja.

“Inovasi biasa-biasa saja atau bertahap tidak akan dihargai seperti dulu. Inovasi dan birokrasi juga seperti air dan minyak,” ujarnya.

Meski mempertahankan posisi teratas, Korsel mendapatkan nilai lebih rendah pada kategori aktivitas paten.

Ada pun Jerman mengalami peningkatan pada kategori intensitas manufaktur dan penelitian. Hal itu dibantu tingginya riset dan kemajuan di perusahaan seperti Volkswagen AG, Robert Bosch, dan Daimler AG.

Baca Juga: Presiden Jokowi Pamer Pertashop, Apa Itu?

Korsel dinilai para pengamat masih perlu melakukan improvisasi. “Korsel sudah bagus, tetapi Korsel masih perlu menggelontorkan investasi baru di sektor teknologi dan program reguler yang mampu meng angkat perusahaan rintisan,” ujar Khoon Goh, Kepala Riset Australia and New Zealand Banking Group Ltd.

Goh menambahkan, inovasi merupakan hal penting yang perlu ditingkatkan sehingga mendorong kinerja ekonomi, terutama ekonomi kawasan. Pernyataan Goh bukan tanpa alasan. Dengan persaingan yang kian ketat, sebagian perusahaan besar mengalihkan pabrik ke negara-negara berbiaya produksi rendah.

Korsel unggul dalam penelitian dan pengembangan. Hal itu tidak terlepas dari tingginya dukungan pemerintah, baik terhadap akademisi ataupun perusahaan. Aktivitas penelitian di dalam laboratorium juga amat tinggi.

Padahal, pada 1957, tidak lama setelah Perang Korea, PDB per kapita Korsel sejajar Ghana. “Di Korsel, penelitian intensif yang dipimpin oleh Samsung telah memodernisasi keseluruhan ekonomi di negara itu,” ungkap Bloomberg.

Anggaran yang dikeluarkan Samsung untuk penelitian dan pengembangan terus mengalami kenaikkan, dari USD9,1 miliar pada 2011 menjadi USD14 miliar pada 2014. Menurut Bloomberg, berkebalikan dengan Pakistan, Kenya, Brasil, dan Indonesia, tingkat pendidikan di Korsel sudah sangat tinggi.

Selain itu, ekonomi nasional Korsel tidak mengalami disfungsi akibat korupsi sehingga lapangan pekerjaan memadai. Pendidikan yang berkualitas dinilai dapat mencetak SDM yang baik. Swedia yang menjadi negara kedua paling inovatif pada 2018 harus gigit jari setelah terge lincir ke posisi ketujuh.

Sebaliknya China dan Israel melaju pesat hingga melampaui Singa pura, Swedia, dan Jepang ke posisi kelima. Kedua negara itu mengalami peningkatan skor di bidang aktivitas paten dalam 12 bulan terakhir. Negara Asia Tenggara yang masuk daftar 60 negara paling inovatif ialah Malaysia yang berada di posisi ke-26.

Peringkat Malaysia cenderung stagnan. Kemudian Thailand berada di posisi ke-40 atau naik lima peringkat dari posisi ke-45 pada 2018. Vietnam berada di posisi ke-60 untuk negara paling inovatif pada 2019. Sayangnya Indonesia tidak masuk daftar negara paling inovatif tersebut.

Indeks Tahunan Inovasi Bloomberg menganalisis sejumlah kriteria yang menggunakan tujuh matriks antara lain belanja riset dan pengembangan, kemampuan kapabilitas manufaktur, dan konsentrasi perusahaan untuk teknologi tinggi. Selain itu produktivitas, efisiensi, konsentrasi riset, dan aktivitas hak paten.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini