nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dikritik soal Utang Negara Naik 69%, Begini Jawaban Sri Mulyani

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 29 Januari 2019 12:27 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 29 20 2010795 dikritik-soal-utang-negara-naik-69-begini-jawaban-sri-mulyani-YCfxGRPdku.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dikritisi mengenai utang. Dirinya menyebut jika utang pemerintah selama empat tahun terakhir mengalami perubahan hingga 69% dari Rp2.605 triliun menjadi Rp4.416 triliun.

Menanggapi hal tersebut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jika dilihat hanya dari nominalnya saja memang betul utang pemerintah mengalami kenaikan. Artinya pembayaran utang pemerintah juga akan mengalami kenaikan.

"Kalau mau mengatakan jumlah pembayaran utang naik yang memang relatif nominal utangnya naik," ujarnya dalam acara konferensi pers di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Baca Juga: Rasio Utang Pemerintah Capai 29,98% dari PDB

Namun menurutnya, hal tersebut dirasa kurang fair jika hanya membandingkan nominalnya saja tanpa mengetahui kondisi global. Menurut Sri Mulyani, ketika 2014 hampir seluruh negara mengalami krisis menyusul jatuhnya harga komoditas pada 2008.

Bahkan menurutnya, di Amerika Serikat (AS) sendiri ketika itu mengalami keterpurukan sehingga ketika itu suku bunga begitu rendah. Ketika suku bunga rendah, maka bunga utang juga lebih kecil.

"Jadi kalau kita bicara 2014, di mana waktu itu monetary policy di seluruh dunia juga sangat loose, dan BI mampu menurunkan suku bunga. Maka pasti dengan stok utang yang lebih kecil dengan suku bunga rata-rata Internasional dan dalam negeri yang lebih rendah, ya pasti pembayaran bunganya lebih moderate," jelasnya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu melanjutkan, setelah masa-masa sulit tersebut lima tahun kemudian stok nominal menjadi tinggi. Hal tersebut seiring mulai membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

Baca Juga: Menkeu Disebut Menteri Pencetak Utang, Faktanya Utang RI Masih Aman

Membaiknya ekonomi Amerika Serikat membuat Bank Sentral AS yakni The Fed memutuskan untuk menarik kembali uang-uang (Dolar) yang telah di keluarkan. Salah satu caranya adalah dengan menarik investor lewat kenaikan suku bunga acuan.

Selama 2018 lalu saja, The Fed menaikkan suku bunga sebanyak empat kali. Dengan kenaikan suku bunga tersebut membuat bunga pembayaran utang juga meningkat.

"Dengan jumlah stok nominal yang tinggi, karena ini selalu agak membingungkan selalu yang dibandingkan oleh mereka selalu nominalnya. Suku bunga dunia juga sekarang meningkat. Ditambah BI menaikkan suku bunga sudah 7 kali kenaikan suku bunga Indonesia," jelasnya.

Oleh karena itu, Wanita yang kerap disapa Ani meminta agar perbandingan utang harus dilihat tidak hanya dari nominalnya saja. Melainkan juga kondisi perekonomian dalam negeri maupun luar negerinya juga.

"Kalau nominalnya ini bergerak tapi nominal lain tidak dilihat, itu kan jadi membingungkan, atau cenderung dianggap untuk menakut-nakuti masyarakat," ucapnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini