nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gubernur BI Pede Rupiah Bisa Terus Menguat, Ini Alasannya

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 29 Januari 2019 13:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 29 20 2010842 gubernur-bi-pede-rupiah-bisa-terus-menguat-ini-alasannya-mMgclEqigX.jpg Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyakini penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan berlanjut pada 2019. Nilai tukar rupiah sendiri memang terus menguat bahkan sempat menyentuh angka Rp13.900 per USD.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, optimisme tersebut bukannya tanpa alasan. Sebab, dari hasil pengamatannya, ada indikator yang membuat Rupiah bisa perkasa di tahun 2019.

"Kami memandang bahwa nilai tukar Rupiah ke depan stabil dan cenderung menguat. BI memandang nilai tukar stabil dan cenderung menguat, ada empat faktor yang melandasi nilai tukar tadi," ujarnya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (29/1/2019).

 Baca Juga: Rupiah Menguat karena 4 Faktor, Begini Penjelasan Gubernur BI

Faktor pertama adalah menurutnya mulai membaiknya perekonomian global. Memang menurut Perry, masih ada beberapa gejolak ekonomi di tahun 2019 ini, namun menurutnya hal tersebut relatif lebih kecil dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Salah satu contohnya mulai meredanya kisruh ekonomi global adalah kenaikan suku bunga The Fed yang tidak seagresif tahun lalu. Tahun ini diperkirakan The Fed hanya akan menaikan suku bunga sebanyak dua kali saja.

Bahkan beberapa pengamat menyebut jika The Fed sama sekali tidak akan menaikan suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal tersebut berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, yang mana The Fed menaikan suku bunga acuannya sebanyak empat kali selama setahun.

"Pada waktu itu memperkirakan Fed Fund Rate (FFR) di tahun ini 3 kali dan setelah Desember dan Januari kami melihat FFR buka 3 kali tapi paling banget 2 kali," jelasnya.

 Baca Juga: Penguatan Rupiah Terhenti di Rp14.092/USD

Faktor kedua, tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Tanah Air pun terus meningkat. Hal ini tergambar dari masuknya aliran modal asing sejak kuartal IV-2018.

Bank Indonesia mencatat aliran modal asing per 24 Januari 2019 mencapai Rp19,2 triliun. Adapun rinciannya adalah Rp12,07 triliun masuk lewat pasar saham, Rp8,02 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan sisanya ke instrumen lainya.

"Arus modal asing itu, investasi portofolio, baik itu di SBN, saham itu terus naik. Bahkan di tahun ini terus berlangsung dan mendukung salah satu stabilitas dari sisi nilai tukar," katanya.

Lalu kemudian faktor ketiga adalah fundamental perekonomian Indonesia yang kuat. Menurutnya, kuatnya ekonomi Indonesia tergambar dari tingkat inflasi dan defisit anggaran yang rendah.

Dan faktor keempat adalah adanya perkembangan mekanisme pasar yang saat ini tidak bergantung pada swap (pertukaran bunga dari satu uang ke mata uang lainnya). Karena sudah ada Domestic Non Delevery ke Forward (DNDF) yang digunakan.

"Detailnya ada sejumlah kebijakan, sudah kita koordinasikan dengan OJK," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini