Share

Pertumbuhan Industri Ditargetkan Capai 5,67%

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 01 Februari 2019 10:53 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 01 320 2012308 pertumbuhan-industri-ditargetkan-capai-5-67-UpyCHtTgYK.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Pertumbuhan sektor industri tahun 2019 diproyeksikan stagnan pada kisaran 5,67% atau sama dengan tahun lalu. Sektor manufaktur masih menjadi tumpuan.

”Pertumbuhan industri tahun ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%. Pertumbuhan ini ditopang dari manufaktur atau nonmigas saja,” kata Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Imam Haryono di sela acara Outlook Ekonomi dan Industri 2019 di Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Jakarta, kemarin. Menurut dia, terdapat sejumlah upaya yang perlu dilihat untuk mencapai target pertumbuhan industri tahun ini. Sejumlah upaya itu antara lain perang dagang antara Amerika Serikat dan China, penyelenggaraan pemilihan umum, kerja sama antara Indonesia dan Eropa, serta dinamika industri manufaktur.

Baca Juga: Industri Ini Akan Kinclong di Tahun Politik

”Selain itu, kita juga akan melihat pertumbuhan industri sebelumnya. Kita analisis per tumbuhan sebelumnya dan apa yang akan terjadi,” ujar dia. Meskipun terjadi perubahan secara global, imbuhnya, Indonesia masih menempati peringkat lima besar dalam nilai tambah manufaktur. Selain itu, industri manufaktur tetap menjadi andalan penyumbang pertumbuhan ekonomi dengan kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB). Tak hanya itu, untuk menopang pertumbuhan tahun ini pemerintah menggalakkan program industri 4.0 dengan mengandalkan lima subsektor industri, di antaranya industri makanan dan minuman, mesin, tekstil dan pakaian jadi, kulit serta barang logam, komputer dan barang elektronik.

Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan industri makanan dan minuman tumbuh 9,86%, mesin 7%, tekstil dan pakaian jadi 5,61%, barang dari kulit dan alas kaki 5,40%, serta barang logam, komputer, dan barang elektronik 3,81%. ”Kita juga mengupayakan peningkatan sumber daya manusia dan pemberian fasilitas-fasilitas fiskal, seperti tax holiday ataupun insentif,” ujar dia. Imam menyebut, perang dagang antara AS dan China juga memberikan keuntungan bagi pertumbuhan industri nasional karena terjadi relokasi usaha dari China ke Indonesia. Pada akhir tahun lalu saja, telah terjadi relokasi usaha perusahaan besar lithium battery di Morowali dengan investasi sekitar USD700–800 juta. Tahun ini diharapkan segera relokasi perusahaan petrokimia di Gresik, Jawa Timur.

grafik

”Industri petrokimia di Cilegon juga lumayan kuat dengan masuknya Lotte Group sehingga secara struktur industri akan semakin kuat. Ini menguntungkan bagi pertumbuhan industri di dalam negeri,” kata dia. Pada kesempatan yang sama, pakar ekonomi Raden Pardede beranggapan target pertumbuhan industri tahun ini sebesar 5,67% tidak realistis dan sulit tercapai. Menurut dia, target sebesar 5,67% harus dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6%. ”Itu belum mungkin untuk kita tumbuh 6% pada tahun ini. Tapi bukan tidak mungkin karena kalau 2–3 tahun ke depan dilakukan upaya perubahan di sektor riil, maka kita punya kesempatan,” kata dia.

Namun jika hanya dilakukan upaya pada kebijakan fiskal dan moneter, maka pertumbuhan ekonomi ditaksir hanya bergerak di angka 5%. Sementara di sisi manufaktur juga harus disiapkan keterampilan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, bahan baku, investasi, dan adopsi teknologi. ”Kita harus siapkan itu semua, termasuk mengurangi hambatan investasi dan ekspor. Reform itu yang harus kita lakukan,” kata dia.

(Nanang Wijayanto)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini