Share

Google Suntik Go-Jek Rp14 Triliun, Asing Semakin Kuasai Startup Indonesia

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Minggu 03 Februari 2019 09:46 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 03 320 2013143 google-suntik-go-jek-rp14-triliun-asing-semakin-kuasai-startup-indonesia-hhUcbWegs1.jpg Foto: India Today

JAKARTA - Go-Jek merampungkan fase pertama putaran pendanaan seri F yang dipimpin oleh Google, JD.com, dan Tencent, serta beberapa investor lainnya termasuk Mitsubishi Corporation dan Provident Capital.

Berdasarkan rumor yang beredar di pasar, suntikan modal dari Google-Tencent Cs ini mencapai USD1 miliar atau setara Rp14 triliun (asumsi kurs Rp14.000 per USD). Dengan dibanjiri dana asing masuk Go-Jek, sebagian pihak menilai startup Indonesia semakin dikuasai asing.

Untuk itu, Pemerintah diminta untuk mengambil kebijakan terkait penguasaan asing atas perusahaan-perusahaan startup lokal. Menurutnya, jika semakin dikuasai asing, maka data warga negara Indonesia rawan disalahgunakan.

"Kita jangan sekedar bangga atas keberadaan startup-startup unicorn tersebut, karena faktanya mereka sudah dikuasai asing. Lagi-lagi kita hanya menjadi pasar semata. Pemerintah harus segera mengambil langkah strategis dan taktis mengatasi hal ini," kata Anggota Komisi XI DPR-RI Ecky Awal Mucharam seperti dikutip, Minggu (3/2/2019).

 Baca Juga: Diam-Diam Tokopedia & Gojek Cs Dikuasai Asing, Ini Buktinya

Menurut Ecky, ada tiga masalah jika startup dikuasai asing penuh. Pertama, disrupsi ekonomi yang menimbulkan winner dan loser. Dengan keunggulan teknologi para startup unicorn ini akan menjadi pemenang dalam kompetisi sementara pemain tradisional tersisih.

Kata dia, sama saja membiarkan asing merebut lebih banyak kue ekonomi. Apalagi pemberlakuan pajak antara bisnis startup dan tradisional berbeda. Pajak untuk perusahaan-perusahaan tersebut sangat longgar.

“Selain tidak fair juga terjadi kebocoran penerimaan negara. Perlu ada level playing field atau aturan main yang sama," katanya.

 Baca Juga: Investor Kucurkan Dana Triliunan, Startup Indonesia Dikuasai Asing

Persoalan lain, dominasi barang-barang impor di startup e-commerce unicorn yang bisa membanting harga. Akibatnya produk lokal tersisih. Diperkirakan 90-an% barang-barang yang diperjualbelikan unicorn e-commerce adalah impor.

Jika seperti itu, maka sama saja memperburuk defisit transaksi berjalan dan tidak ada manfaat nilai tambahnya bagi ekonomi keseluruhan khususnya sektor manufaktur di Indonesia.

Ketiga, dirinya khawatir, dari sisi penggunaan dan perlindungan keamanan data ini belum jelas regulasinya. Rawan disalahgunakan yang nantinya merugikan kepentingan nasional.

 Baca Juga: Dapat Dana Segar Rp14 Triliun, Go-Jek Lebarkan Sayap ke Vietnam hingga Thailand

Karena itu, dirinya minta pemerintah harus segera merancang regulasi yang komprehensif dan dapat menjawab tiga isu tersebut. Entah misalkan pembatasan kepemilikan asing, insentif dan disinsentif fiskal untuk memperkuatkan manfaat bagi ekonomi nasional, maupun aturan yang lebih teknis terkait keamanan data.

“Kembali ke amanah pasal 33 UUD 45, jangan kalah oleh liberalisasi ekonomi dengan cover ekonomi digital," ujarnya.

Dalam keterangan resmi, setelah putaran pendanaan Seri F, perusahaan mengklaim bahwa para pendiri Gojek akan tetap memiliki kontrol terhadap pengambilan keputusan dan penentuan arah kebijakan perusahaan, agar mereka dapat merealisasikan visi jangka panjang perusahaan serta terus melakukan ekspansi dan pengembangan bisnis yang pesat.

Diperkirakan Gojek sudah disuntik investor asing lebih dari USD3 miliar. Techcrunch melaporkan, Gojek telah tujuh kali melakukan putaran penggalangan dana dan diperkirakan valuasinya mendekati USD10 miliar.

Saat ini investor Gojek adalah Tencent Holdings, JD.com, New World Strategic Invesment dari China, Google dari AS, Temasek Holdings dan Hera Capital dari Singapura dan Astra International dan GDP Ventures dari Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini