JAKARTA - PT Pertamina (Persero) menganggarkan belanja modal di 2019 sebesar USD4,2 miliar. Angka tersebut memang mengalami penurunan dibandingkan belanja modal tahun lalu sebesar USD5,5 miliar.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, memang ada perbedaan belanja modal yang disebutkan pada 2018 lalu. Hal itu dikarenakan tidak semuanya belanja modal sepenuhnya berasal dari Pertamina.
Maksudnya, beberapa uang belanja modal ada yang menjadi tanggungan anak usaha juga. Meskipun tanggungan belanja modal tersebut melalui mekanisme kerjasama.
"Capex USD4,2 miliar. Kan ada juga yang kerjasama jadi capex ada yang kita sendiri ada yang kerja sama dengan anak peeusahaan dan sebagainya," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/2/2019).
Baca Juga: Sopir Mobil Tangki Minta Jadi Pegawai Pertamina Berpotensi Bebani Negara
Untuk biaya belanja modal sebesar USD4,2 miliar nantinya akan berasal dari ekuitas perseroan. Artinya tidak ada biaya satu persen pun yang berasal dari utang pemerintah.
"Pendanaan belanja modalnya berasal dari ekuitas kami," ucapnya.
Nicke melanjutkan, porsi belanja modal sebesar USD4,2 miliar akan diprioritaskan untuk sektor hulu. Sebesar USD2,52 miliar atau 60%nya digunakan untuk sektor hulu.
Baca Juga: Pertamina Teken 3 Kerja Sama dengan Raksasa Migas Italia
Kebutuhan sektor hulu nantinya akan digunakan untuk melakukan pengeboran sumur minyak yang baru dan lama. Sehingga produksi minyak bisa meningkat pada tahun depan.
"Porsi hulunya 60% itu kebanyakan untuk melakukan drilling meningkatkan produksi," ucapnya.
(Feby Novalius)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.