nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Tidak Mungkin Bubar, Ini Alasannya

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 15:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 07 320 2014858 indonesia-tidak-mungkin-bubar-ini-alasannya-nNzLjKhBX6.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Calon Presiden nomor Urut 2 Prabowo Subianto menyebut jika Indonesia akan bubar pada 2030. Prabowo menyebut jika Indonesia akan punah alias bubar karena pemerintah gagal menjalankan amanah rakyat.

Head of Corporate Finance Jasa Marga Eka Setia Adrianto mengatakan, sangat tidak mungkin jika Indonesia bubar. Karena selama ini, investor baik asing maupun dalam negeri justru semakin gencar menanamkan modalnya ke Indonesia.

 Baca Juga: Kepala BKPM: Indonesia Tujuan Investasi Menarik bagi Eropa

Sebagai acuan, Bank Indonesia mencatatkan hingga 17Januari 2019 adanya arus modal asing masuk atau capital inflow sebesar Rp14,75 triliun. Dana tersebut berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN) maupun portofolio saham.

Secara rinci, aliran modal dari SBN tercatat sebesar Rp11,48 triliun. Sedangkan dari portofolio saham tercatat masuk dana asing sebesar Rp3,21 triliun.

"Sekarang gini, kira-kira investor mau enggak (Investasi di Indonesia) kalau tahu Indonesia mau bubar?" ujarnya dalam sharing season di Menara BCA, Jakarta, Kamis (7/2/2019).

 Baca Juga: Investasi Asing Loyo, Menko Luhut: Enggak Masalah

Eka juga menjawab kritik pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kritikan tersebut datang karena pembangunannya banyak menggunakan utang asing.

Menurut Eka, pembiayaan lewat utang bukan sesuatu hal baru dalam dunia bisnis. Lagipula utang ini memberikan.banyak manfaat bagi perseroan, negara maupun masyarakat umum.

Bagi perseroan dan negara, banyaknya investor yang mau menanamkan modalnya ke Indonesia untuk pembangunan jalan tol artinya mereka percaya dengan kondisi dan keuangan perseroan. Sementara bagi masyarakat, pembangunan jalan tol ini juga sangat penting untuk memangkas waktu tempuh dan menyambungkan aksesbilitas antar wilayah.

"Di satu sisi pasti punya utang orang punya trust dipercaya pihak ketiga," katanya.

Lagi pula lanjut Eka, perusahaan juga tidak akan sembarangan dalam berutang. Karena perusahaan pasti akan melihat dari sisi risiko dan kemampuan bayar agar tidak merugikan di kemudian hari.

"Kita juga enggak berani juga (kalau ngutang saat negara bubar). Apalagi kita sudah berhubungan dengan capital market itu tidak mudah," katanya

 Baca Juga: Realisasi Investasi 2018 Hanya 94% Setara Rp721,3 Triliun

Eka melanjutkan, dalam berutang perseroan biasanya mempertimbangkan jika cicilannya harus sepertiga dari pendapatan. Karena jika lebih dari itu, akan membahayakan keuangan perseroan.

Eka mengibaratkan, berutang untuk pembangunan infrastruktur sama seperti halnya mencicil rumah. Untuk membeli rumah biasanya cicilan yang dibayarkan adalah sepertiga dari penghasilan.

"Sama halnya dengan membeli rumah. Saya kira jarang beli rumah cash. Dan biasanya cicilannya sepertiga dari penghasilan," jelasnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini