nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Pembayaran Indonesia 2018 Catat Defisit USD7,1 Miliar

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 08 Februari 2019 17:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 08 20 2015448 neraca-pembayaran-indonesia-2018-catat-defisit-usd7-1-miliar-kfAWhDUFy1.jpg Bank Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), pada triwulan IV 2018 mengalami surplus sebesar USD5,4 miliar. Surplus tersebut menopang ketahanan sektor eksternal.

Direktur Eksekutif Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati mengatakan, bahwa perkembangan NPI secara keseluruhan tahun 2018 menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap terkendali.

"Defisit neraca transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, sebesar USD31,1 miliar atau 2,98% dari PDB. Defisit tersebut terutama dipengaruhi oleh impor non migas yang tinggi, khususnya bahan baku dan barang modal, sebagai dampak dari kuatnya aktivitas ekonomi dalam negeri, di tengah kinerja ekspor nonmigas yang terbatas," ujarnya di Gedung Bank BI Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Dia menjelaskan bahwa kenaikan defisit juga didorong oleh peningkatan impor minyak seiring peningkatan rata-rata harga minyak dunia dan konsumsi BBM domestik.

Baca Juga: Gubernur BI: Neraca Pembayaran Kuartal IV-2018 Surplus USD5 Miliar

"Di sisi lain, di tengah ketidakpastian di pasar keuangan global yang tinggi, transaksi modal dan finansial mencatat surplus yang cukup signifikan sebesar USD25,2 miliar, terutama ditopang aliran masuk modal berjangka panjang. Jadi, NPI tahun 2018 mengalami defisit sebesar USD7,1 miliar," tuturnya.

Dia menuturkan, untuk ke depannya, kinerja NPI diprakirakan membaik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah guna memperkuat ketahanan sektor eksternal, termasuk pengendalian defisit transaksi berjalan pada 2019 menuju kisaran 2,5% dari PDB.

"Kami (BI), selalu mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI khususnya ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi, serta volume perdagangan dunia dan harga komoditas global yang cenderung menurun," ungkapnya.

grafik

Dia menambahkan, Bank Indonesia juga akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural.

"Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2018 meningkat menjadi USD120,7 miliar, atau setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelasnya.

Surplus transaksi modal dan finansial, lanjut dia pada triwulan IV 2018 meningkat signifikan sebagai cerminan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik. Surplus transaksi modal dan finansial tercatat sebesar USD15,7 miliar, meningkat signifikan dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya sebesar USD3,9 miliar.

"Peningkatan tersebut terutama didukung oleh membaiknya kinerja investasi portofolio, seiring meningkatnya aliran masuk dana asing pada aset keuangan domestik. Peningkatan surplus juga didukung penerbitan obligasi global oleh pemerintah dan korporasi," katanya.

Selain itu, tutur dia optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia mendorong pelaku usaha domestik melakukan penarikan simpanan di bank luar negeri untuk memenuhi kebutuhan bisnisnya sehingga investasi lainnya tercatat surplus.

"Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV 2018 meningkat sejalan dengan permintaan domestik yang kuat. Defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan IV 2018 tercatat sebesar USD9,1 miliar (3,57% PDB), lebih tinggi dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar USD8,6 miliar (3,28% PDB)," ungkapnya.

Peningkatan defisit neraca transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja neraca perdagangan barang nonmigas akibat masih tingginya impor sejalan dengan permintaan domestik yang masih kuat di tengah kinerja ekspor yang terbatas.

"Meskipun demikian, kinerja neraca pendapatan primer dan neraca jasa yang lebih baik dapat membantu mengurangi kenaikan defisit. Perbaikan neraca pendapatan primer terutama ditopang pembayaran bunga surat utang pemerintah yang lebih rendah, dan kenaikan surplus jasa perjalanan, antara lain didukung oleh penyelenggaraan Asian Para Games di Jakarta dan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali," pungkasnya.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini