nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemerintah Buka-bukaan Harus Impor 280.000 Ton Jagung

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 16:09 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 02 14 320 2017959 pemerintah-buka-bukaan-harus-impor-280-000-ton-jagung-ms758jFlUH.jpg Foto: Dok. Kementan

JAKARTA - Kementerian Koordinator bidang Perekonomian buka-bukaan terkait impor jagung 30.000 ton. Sebab belakangan impor jagung ini mendapatkan banyak reaksi bahkan sampai dipolitisasi.

Deputi Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, alasan mengapa akhirnya pemerintah melakukan impor adalah karena kekurangan stok, sehingga berpotensi membuat harga jual jagung di tingkat konsumen melonjak.

Menurut Musdalifah, kekurangan stok tersebut disebabkan telatnya antisipasi kelangkaan jagung pada tingkat peternak. Khususnya kelangkaan jagung yang terjadi pada semester II-2018 lalu yang berujung pada kebijakan impor jagung kering untuk bahan baku pakan ternak dalam tiga tahap sebanyak total 280.000 ton.

"Kemarin kita agak kurang dalam mengukur kebutuhan jagung industri peternakan kecil dan menengah. Seharusnya saat paceklik kita sudah mampu mengukur bahwa produksi kita hanya sekian dan kita butuh dalam tiga bulan ke depan dari mana saja," ujarnya saat ditemui di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (13/2/2019).

 Baca Juga: RI Targetkan Ekspor Jagung 500.000 Ton

Oleh karenanya lanjut Musdhalifah, pemerintah akan memperbaiki hal tersebut agar pada tahun ini kejadian tersebut tidak terulang kembali. Salah satu yang akan dilakukan adalah dengan memeprbaiki data dan sistem informasi tanaman jagung.

"Sebetulnya di 2017 gejolaknya tidak terlalu banyak. Ini terjadi di 2018 karena mungkin akses data kita kurang sinkron antara produksi dan kebutuhan pada saat paceklik. Kita perlu mengukur produsen dan konsumen jagung ini dengan lebih detail," katanya.

Data dan informasi tersebut nantinya akan mencantumkan data produksi dan konsumsi secara lebih detail. Tak hanya itu, nantinya data tersebut juga akan menghadirkan informasi detail mengenai distribusinya.

"Kalau kita lihat, di Jawa masih banyak yang belum mendapat jagung, tapi di Sumatra Utara sekarang panen raya besar. Ke mana jagung itu pergi? Mungkin memang industri kita menyerap besar sekali dan ini perlu kita antisipasi lebih baik lagi ke depan," kata Musdhalifah.

 Baca Juga: Bahaya Impor Jagung Tanpa Kuota

Mengenai pengetatan aturan, pemerintah sendir mengaku sudah menjalankan aturan importasi dengan ketat. Mulai sejak dini pemerintah mulai mengurangi sedikit demi sedikit angka impor.

Di sisi lain, pemerintah sendiri aka menggenjot sektor pertanan dengan cara memperluas lagi tanaman jagung petani, sehingga diharpakan tidak ada lagi jagun impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Tapi kemudian kita lihat ada hal-hal yang tidak terukur, mungkin pendataan kita kurang tersistem dengan baik, sehingga kita terlambat mengukur kekurangan saat masa paceklik. Akhirnya kita baru melakukan pencukupan kebutuhan peternak pada saat-saat akhir," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini