nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RI Targetkan Ekspor Jagung 500.000 Ton

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 07 Februari 2019 10:19 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 07 320 2014709 ri-targetkan-ekspor-jagung-500-000-ton-vsyovhWzie.jpg Foto: RI Targetkan Ekspor Jagung 500.000 Ton (Dok Kementan)

LAMONGAN – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pada tahun ini bisa mengekspor jagung sekitar 500.000 ton. Target itu lebih tinggi jika dibandingkan ekspor 2018 yang mencapai 380.000 ton.

“Karena tahun lalu 380.000 ton, tahun ini bisa naik hingga 500.000 ton. Dan itu tidak bisa dibantah. Sekarang ini bagaimana kita harus tingkatkan ekspor jagung ke depan,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di sela acara panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kemarin.

Menurutnya, ekspor jagung sebanyak 380.000 ton tersebut terbilang masih sangat kecil dan bisa ditingkatkan. Di proyeksi, produksi jagung pada tahun ini bisa mencapai 29,93 juta ton, sementara konsumsi nasional sebanyak 23,25 juta ton.

Baca Juga: Produksi Pangan Meningkat, KTNA: Ini Prestasi Petani Kita

Jika mengacu pada angka tersebut, produksi jagung tahun ini diperkirakan surplus 6,68 juta ton. Amran mengungkapkan, Indonesia telah berhasil menurunkan impor jagung dari sekitar 3,5 juta ton pada 2014 menjadi 1,3 juta di 2015. Lalu pada 2016 turun lagi menjadi 900.000 ton dan tahun 2017 tidak ada impor.

“Tahun 2018 ekspor 380.000 ton, impor 100.000 ton, artinya (jagung) surplus. Terpenting adalah dulu kita impor dari Argentina dan Amerika, sekarang kita sudah bisa ekspor,” ungkap dia.

Dalam kesempatan tersebut, Amran berharap para petani dapat menyuplai kebutuhan jagung peternak baik yang berada di wilayah Lamongan, maupun di kabupaten lainnya.

“Kami berharap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani saat panen raya seperti ini, sehingga dapat menjadi buffer stock,” ujarnya. Selain itu, petani jagung dan peternak ayam mandiri juga dapat menikmati masa panen raya jagung saat ini melalui mekanisme distribusi dan stok yang baik.

Baca Juga: Presiden Jokowi: Indonesia Stop Impor Jagung 3,6 Juta Ton dan Ekspor 380 Ribu Ton

Mentan menambahkan bantuan bibit jagung untuk petani di Kabupaten Lamongan tahun ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu. Bantuan benih jagung tahun ini jadi 20.000 paket dengan pupuk.

“Tambahan bantuan benih ini supaya Lamongan bisa suplai kebutuhan jagung peternak ayam petelur di Blitar,” jelas Amran. Sebagai sentra ternak ayam petelur, kebutuhan jagung pakan di Blitar sangat tinggi.

Oleh karena itu, Mentan berinisiatif menjembatani para peternak di Blitar dengan para petani jagung di Lamongan. Mentan menginstruksikan Perum Bulog untuk menyerap jagung milik petani di Lamongan untuk kemudian dijual ke para peternak di Blitar.

“Ini model baru, nggak usah pulang ambil stempel. Kertas kesepakatan ini tolong masing-masing dibawa pulang. Traktor dan dryer kami bantu kirim ke sini, hasilnya kirim ke Blitar,” tegas Amran.

Baca Juga: Bahaya Impor Jagung Tanpa Kuota

Untuk melancarkan kesepakatan ini, Amran pun menyiapkan 20 dryer atau mesin pengering jagung berkapasitas 10 ton per 8 jam.

Selain dryer, Kementan akan memberikan bantuan 10 traktor roda empat serta lima unit alat panen.

“Ini semua untuk rakyat, bukan untuk tengkulak. Kami tidak ingin dipermainkan. Ini solusi konkret dan permanen,” tukas Amran.

Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati mengatakan luas lahan jagung di Kecamatan Modo mencapai 1.627 hektare (ha) yang dimiliki oleh beberapa kelompok tani dengan rata-rata kepemilikan 0,5 ha per orang. Sedangkan luas hamparan jagung di lokasi panen mencapai 496 ha.

Kartika menjelaskan, harga jagung di tingkat petani saat ini untuk tongkol berkisar Rp2.000-Rp2.200 per kilogram (kg), pipil basah Rp3.500-Rp3.800 per kg dan pipil kering Rp4.800-Rp5.000 per kg.

Saat ini, kata Kartika, Lamongan memiliki program inovasi tanam jagung dan peternakan yang terkenal dengan sebutan Tersapi Jagat atau Ternak Sapi Usaha Jagung Meningkat.

“Berkat inovasi ini, kita manfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk organik untuk tanaman jagung, sehingga jagung yang dihasilkan menjadi dua kali lipat meningkat produktivitasnya menjadi rata-rata sebanyak 10,3 ton per ha dari yang biasanya hanya 5 hingga 6 ton,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri mengatakan produksi jagung pada tahun ini diperkirakan bisa mencapai 29,93 juta ton, sementara konsumsi nasional sebanyak 23,25 juta ton.

“Jika mengacu pada angka tersebut, produksi jagung tahun ini diperkirakan surplus 6,68 juta ton,” ujarnya.

Ada beberapa provinsi yang menyumbang peningkatan produksi jagung secara nasional. Provinsi Jawa Timur misalnya, salah satu sentra produksi jagung ini berhasil menyumbang kontribusi sebesar 27,7%.

Selanjutnya Provinsi Jawa Tengah 15%, Lampung 8,4% dan Sulawesi Selatan 7,9%. Sementara itu, konsumsi jagung terbesar secara nasional digunakan untuk bahan baku industri pangan sebesar 11,1 juta ton.

Kemudian bahan baku industri makanan 5,93 juta ton dan bahan baku pakan ternak 4,2 juta ton. Adapun untuk konsumsi rumah tangga angkanya mencapai 405.000 ton, sedangkan yang tercecer sekitar 1,5 juta ton. (Kunthi Fahmar Sandy)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini