Defisit Neraca Perdagangan Januari 2019 Terbesar Sejak 2013

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 15 Februari 2019 13:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 15 20 2018344 defisit-neraca-perdagangan-januari-2019-terbesar-sejak-2013-2EMWSiNawi.jpeg Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Yohana/Okezone)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2019 defisit sebesar USD1,16 miliar. Defisit periode Januari tahun ini menjadi yang terdalam dibandingkan periode yang sama sejak 2013.

Berdasarkan data BPS, tren dari 2008 hingga 2012 neraca perdagangan pada Januari terus mengalami surplus. Saat itu, di 2008 surplus USD1,5 miliar dan berlanjut hingga Januari 2012 surplus USD1,01 miliar. Adapun sepanjang periode itu, surplus terbesar terjadi di Januari 2010, yang mencapai USD2,1 miliar.

Namun, di Januari 2013 neraca perdagangan mulai mengalami defisit sebesar USD74,7 juta. Kemudian di Januari defisit 2014 sebesar USD444 juta.

Tiga tahun kemudian yakni 2015-2017,neraca perdagangan Januari mengalami tren surplus, hingga pada akhirnya di Januari 2018 kembali defisit sebesar USD756 juta. Lalu defisit semakin dalam di Januari 2019 sebesar yang USD1,16 miliar.

Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan Januari 2019 Defisit USD1,16 Miliar

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, defisit pada Januari 2019 menjadi yang terbesar disebabkan adanya gejolak perekonomian global yang berlangsung hingga tahun ini. Hal itu memberikan dampak negatif bagi perdagangan internasional, termasuk perdagangan Indonesia dengan negara-negara mitra dagang utamanya.

"Jadi lebih karena harga komoditas yang enggak pasti. Dan ini semua kalau kita lihat, dari prediksi sampai Desember 2019 akan cenderung menurun (harga komoditas)," katanya ditemui di Gedung Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Kondisi ini juga, yang menyebabkan selama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak 2014, neraca perdagangan pada Januari trennya mengalami defisit. Terlebih komposisi ekspor Indonesia masih belum berubah, yakni didominasi barang-barang komoditas yang sangat sensitif terhadap perkembangan harga global.

BI Catat Surplus Neraca Perdagangan per Maret Turun 

Dia mencontohkan, komoditas minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang jadi komoditas utama ekspor Indonesia, harus mengalami penurunan kinerja ekspor. Pasalnya, meski volume ekspor meningkat 23,77%, namun harganya anjlok mencapai 13,56%.

"Sehingga kinerjanya jatuh, tercermin dari turunnya ekspor golongan barang lemak dan minyak hewan atau nabati mencapai 9,56%," kata dia.

Selain itu, ada komoditas batubara yang harganya turun 7,76%, padahal volume ekspor naik 14,56%. "Tapi untuk karet, karena volume dan harganya turun yakni 8,8% dan 7,56%, itu membuat karet dan barang dari karet memang turun cukup dalam (kinerja ekspornya)," jelasnya.

Oleh sebab itu, ke depan pemerintah harus mengganti komponen ekspor Indonesia, dari barang komoditas menjadi barang olahan yang memang memberikan nilai tambah. Hal ini untuk menekan defisit neraca perdagangan.

"Jadi industri pengolahan yang menjadi solusinya. Bagaimana itu diolah dulu, mendapatkan nilai tambah, sehingga tidak dipengaruhi harga komoditas. Kita sangat sadar ke sana dan sebetulnya pemerintah di bawah Pak Menko Perekonomian (Darmin Nasution) sudah buat roadmap untuk itu," tutur dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini