nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perpanjangan Rute MRT ke Pondok Cabe Dikaji

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 18 Februari 2019 11:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 18 320 2019477 perpanjangan-rute-mrt-ke-pondok-cabe-dikaji-VGzzHvow92.jpg Proyek MRT Jakarta (Foto: Koran Sindo)

TANGERANG – Pemerintah masih mengkaji perpanjangan mass rapid transit (MRT) Bundaran HI - Lebak Bulus hingga Pondok Cabe, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, termasuk besaran anggaran pembangunan.

”Sekarang sedang dikaji PT MRT Jakarta. Nanti akan koordinasi dengan Pemprov DKI baru kita bisa melangkah pada extend (perpanjangan),” kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono di Tangsel kemarin. Pembiayaan perpanjangan jalur MRT diperkirakan menggunakan APBN dan APBD DKI Jakarta. ”Dibangun oleh Pemprov DKI, biaya grand dari pemerintah pusat, kemudian pinjaman dari pemda. Nanti seluruh pelaksanaannya ada di Pemprov DKI. Kalau yang extend masih studi,” ujarnya.

Baca Juga: Tarif Disubsidi, Menhub: MRT Jakarta Beroperasi Bulan Depan

Selain anggaran perpanjangan jalur dan pembangunan MRT, kajian mendalam juga meliputi transit oriented development (TOD) atau kawasan transit terpadu. ”Kalau TOD di Pondok Cabe akan terkena ketinggian kan dekat bandara, tapi ini sedang dipikirkan. Hanya transit saja atau termasuk developmentnya. Bisa saja kan enggak harus TOD, pola transitnya dibangun,” kata Bambang. Berbeda jika pembangunan TOD di Poris Plawad, Kota Tangerang. Pembangunan TOD di lokasi tersebut dipastikan terlaksana. Tinggal menunggu kajian dan pelaksanaannya.

”Itu juga lagi proses. Memang ada masalah ketinggian. Saat ini sedang dikaji Ditjen Perhubungan Darat berapa maksimal ketinggiannya. Setelah ditetapkan, baru kita masuk proses tender,” ungkapnya. Menurut dia, rencana awalnya TOD bakal menampung sembilan moda transportasi darat dan udara, mulai dari bus antarkota, angkutan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), KRL Commuter Line, light rail transit (LRT), angkutan perkotaan (angkot), hingga helipad. ”Semua ada di TOD,” tambahnya. Tak hanya MRT, Pemprov DKI juga akan memperpanjang jalur LRT hingga Bogor. Saat ini prosesnya baru perpanjangan sampai Cibubur, Jakarta Timur.

”Nanti kita koordinasi di Bogor dan TOD-nya bakal dibangun di Baranangsiang. Target 2020- 2024 bisa dilaksanakan,” ujar Bambang. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi belum bisa berbicara banyak terkait perpanjangan moda transportasi massal MRT dan LRT pada 2020- 2024. ”Kita sudah bikin rencana aksi 2020-2024 di antaranya perpanjangan MRT dan LRT. Masih menunggu investor. Belum ada yang masuk. Nanti setelah ada baru diinformasikan lagi,” kata Budi. Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany berharap pembangunan MRT dari Lebak Bulus ke Tangsel dapat segera direalisasikan mengingat tingginya animo masyarakat.

MRT Akan Beroperasi Pertengahan Maret Tahun Depan 

”Masih belum ada yang baru. Masih tahap prastudi kelayakan (feasibility studies) untuk mengetahui apakah perpanjangan trase cukup menguntungkan atau tidak,” ucapnya. Dia menilai keberadaan MRT penting bagi warganya. Apalagi, 50% warga Tangsel bekerja di Jakarta sehingga membutuhkan moda transportasi massal yang memadai. ”Permintaan warga, saya, dan juga Pemkot Tangsel berharap Terminal Lebak Bulus berganti menjadi intinya (depo) MRT. Harapan kami MRT tidak berhenti sampai Lebak Bulus, tapi dilanjut ke Ciputat dan wilayah sekitarnya,” katanya.

Sebelumnya Direktur Utama PT MRT Jakarta William Syahbandar menuturkan, studi kelayakan rute MRT Lebak Bulus -Tangsel segera dilaksanakan. Dia menunggu penetapan MRT Jakarta sebagai penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) agar bisa melakukan kajian. ”Begitu PJPK diberikan kami akan mendorong untuk melaksanakan FS,” katanya beberapa waktu lalu. Dalam studi tersebut akan dilihat kelayakan proyek dari sisi ekonomi apalagi skema kerja sama yang dipakai adalah business to business (B2B).

Secara teknis akan ada empat skenario rute yang dikembangkan. Adapun panjang lintasan per jalur bervariasi antara 13-20 km. ”Akan dipilih jalur mana atau skenario yang paling ekonomis atau paling feasible . Kemudian, juga dilihat dari jalur itu pilihannya seperti apa, jumlah penumpang yang diangkut seperti apa, apakah jalur yang tepat itu MRT atau LRT atau moda transportasi lainnya,” ujar William.

(Hasan Kurniawan/Yan Yusuf)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini