Direktur Utama PT MRT Jakarta William Syahbandar menuturkan, dalam tampilan kartu MRT terdapat logo Jak Lingko. Artinya, ke depan kartu MRT akan terintegrasi dengan moda lainnya. Saat ini kartu MRT sistemnya masih MRT sendiri. Untuk integrasi dengan modatransportasi lain dibutuhkan waktu, sementara MRT segera beroperasi Maret mendatang.
Dengan sisa waktu yang ada, tidak mungkin kartu MRT langsung terintegrasi dengan moda lainnya lantaran MRT sudah memiliki kartu sejak tahun lalu. Kendati demikian, MRT telah melakukan proof of concept (POC) di BI dengan melibatkan tujuh bank dalam kartu tiket MRT sehingga kartu bank bisa dipakai pada MRT.
“Tujuh kartu bank itu akan diseleksi, harus cepat waktu tapping-nya. Waktunya harus satu detik. Kalau kartunya lama, kan kasihan penumpang,” ucapnya.
Adapun progres MRT fase I Lebak Bulus-Bundaran HI mencapai 98,6%. Kereta MRT memulai proses uji coba operasi penuh pada 26 Februari 2019. Uji coba tersebut nantinya akan melibatkan pihak terkait dan masyarakat.
Saat ini fase paralel trial run yang telah dimulai sejak 24 Desember 2018 masih berlangsung hingga ditargetkan selesai pada 25 Februari 2019. Fase ini adalah uji coba MRT secara paralel dengan tahap testing and commissioning yang dilaksanakan kontraktor.
Pada tahap ini, MRT melibatkan pemangku kepentingan secara terbatas, khususnya yang memiliki keterlibatan/dampak/ pengaruh secara langsung dalam proses pembangunan MRT. “Uji coba operasi yang melibatkan masyarakat diharapkan bisa lebih mengenalkan kereta MRT lebih luas lagi sehingga saat operasi nanti masyarakat tak lagi asing dengan operasional MRT,” ujar William.
Sambil menunggu dan menyelesaikan persiapan operasional MRT pada Maret mendatang, pihaknya tengah menyiapkan pembangunan fase II Bundaran HI-Ancol. Kepastian groundbreaking fase II tinggal menunggu rekomendasi Ke menterian Sekretariat Negara lantaran lokasi pembangunan berada di kawasan Monas.
“Pembangunan MRT fase II akan dibagi dua tahap karena lokasi depo sampai saat ini belum mendapat kepastian. Fase IIA dari Bundaran HI-Kota tidak terganggu meski belum ada depo. Jadi groundbreaking tetap berjalan,” katanya.
Ketua Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menilai tidak akan terjadi tumpang tindih pengelolaan meski integrasi MRT dan Transjakarta dikelola Guber nur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui BUMD. BPTJ akan mengintegrasikan moda transportasi milik DKI dengan moda transportasi milik pemerintah pusat seperti KRL Commuter Line atau LRT Jabodebek, sehingga pada 2029 tercipta moda share angkutan umum maksimal 80%.
“Kami telah menyelesaikan sistem satu tiket pembayaran. Kartu komuter bisa digunakan untuk MRT, LRT, dan Transjakarta, begitu juga sebaliknya. Tidak masalah MRT keluarkan kartu sendiri asalkan bisa untuk lainnya. Tahun ini kami akan implementasikan,” ujarnya.
(Feby Novalius)