Share

Moody's Pangkas Peringkat Utang Bumi Resources Jadi Negatif

Rabu 20 Februari 2019 11:56 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 20 278 2020465 moody-s-pangkas-peringkat-utang-bumi-resources-jadi-negatif-qoJMkT9NaS.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Semangat manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memangkas beban utang dengan persiapan melakukan pembayaran utang yang bakal jatuh tempo, belum memberikan sentimen positif bagi lembaga pemeringkat internasional.

Teranyar, Moody's memangkas peringkat utang PT Bumi Resources Tbk ke level negatif atau B3. Revisi peringkat utang tersebut turun dari sebelumnya yang ditetapkan stabil.

Analis Moody's Maisam Hasnain dalam pernyataan resminya di Singapura, kemarin mengungkapkan, Moody's mengambil langkah tersebut mengacu pada utang obligasi seri A perusahaan batubara ini. Sedangkan untuk seri B yang akan jatuh tempo pada 2022 Moody's memberikan peringkat Caa1.

”Prospek peringkat negatif mencerminkan ekspektasi kami terhadap pembayaran pokok utang BUMI yang menunjukkan tren lebih rendah dari harapan," ujarnya, dikutip dari Harian Neraca, Jakarta, Rabu (20/2/2019).

Baca Juga: Bumi Resources Penyumbang Devisa Ekspor Terbesar

Sebelumnya, Moody's berharap BUMI bisa membayar beban pokok untuk utang obligasi seri A dan fasilitas Tranche A sekitar USD300 hingga USD500 juta di akhir 2019. Mengingat, BUMI telah menyelesaikan tahap restrukturisasi pada Desember 2017.

Namun, saat ini Moody's memperkirakan BUMI akan kesulitan membayar sekitar USD220 juta, mengingat harga batubara saat ini bergerak di bawah proyeksi volume penjualan, tantangan belanja modal dan batasan harga domestik.

Peringkat negatif akan terus menghantui BUMI selama emiten tersebut belum mampu meningkatkan kasnya, mengurangi piutang dalam negeri. Bahkan, emiten yang menguasai 90% tambang Arutmin Indonesia diharapkan bisa mulai membayar dividen Juli 2019.

Sementara itu, saldo utang perusahaan itu diperkirakan masih akan meningkat, seiring laju pembayaran pokok utang Tranche A yang melambat. Sedangkan untuk total pembayaran bunga tunai 2019 diperkirakan berkisar USD30 hingga USD35 juta, ditambah risiko pembayaran pajak di awal lebih dari 51% untuk anak perusahaan di Kalimantan Timur (Kaltim).

Baca Juga: Bumi Resources Lunasi 20% Saham DPM ke Antam

Ditambah lagi, pada 31 Januari 2019 BUMI umumkan pembayaran pajak penghasilan KPC sebesar USD42 juta dan sekitar USD212 juta pada April 2019. Meskipun begitu, BUMI mengklaim bahwa mereka memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utangnya hingga akhir Maret 2019. Karena itu, Moody's berpotensi mengembalikan peringkat BUMI ke level stabil jika perusahaan itu mampu mengurangi utang seri A hingga USD300- USD400 juta di akhir 2019. BUMI juga harus bisa menghasilkan uang untuk membayar utang tetap, tidak kesulitan atau menunda pembayaran utang KPC dalam beberapa bulan mendatang.

BUMI juga perlu menghindari risiko gagal memperpanjang lisensi penambangan di KPC dan Arutmin, serta menghindari penyimpangan kepatuhan terhadap ketentuan perjanjian manajemen keuangan. Sementara menurut analis Kresna Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy, BUMI memiliki kemampuan cukup besar untuk mempercepat pembayaran kewajiban kewajibannya.

Apalagi, lanjut Robertus, ketika perusahaan itu bisa memenuhi target produksi dan penjualan 94 hingga 96 juta ton tahun ini. Ditambah lagi, prospek sektor batubara masih cukup positif di tahun ini. "Prospek menjadi lebih positif pasca pembatasan impor China dari Australia. Diperkirakan, permintaan dapat beralih ke Indonesia," ujarnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini