Terbitkan Obligasi Rp800 Miliar, PP Properti Tawarkan Bunga 11,15%

Selasa 26 Februari 2019 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 26 278 2022903 terbitkan-obligasi-rp800-miliar-pp-properti-tawarkan-bunga-11-15-TnDu35c9Eo.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara resmi mencatatkan obligasi berkelanjutan I PP Properti tahap II tahun 2019 dengan pokok obligasi sebesar Rp800 miliar. Obligasi tersebut diterbitkan dan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan 25 Februari 2019.

Kepala Divisi Operasional Perdagangan BEI Irvan Susandy menjelaskan bahwa obligasi dengan kode PPRO01ACN2 itu mempunyai tingkat bunga tetap sebesar 11,15% per tahun dan berjangka waktu selama tiga tahun.”Hasil pemeringkatan untuk obligasi I PP Properti tahap II adalah BBB+ (idn) dari PT Fitch Rating Indonesia,” ujarnya dilansir di Harian Neraca, Selasa (26/2/2019).

Baca Juga: IPO, Perusahaan Cokelat Ini Pasang Harga Rp178-Rp198 per Saham

Irvan juga menyebutkan, bunga obligasi yang akan jatuh tempo pada tahun 2022 itu akan dibayarkan setiap tiga bulan sekali, di mana pada (22/05) mendatang adalah tanggal pembayaran bunga pertama. Asal tahu saja, dalam menerbitkan obligasi ini, PP Properti menunjuk PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) sebagai wali amanat emisi obligasi. Berdasarkan catatan BEI, per tahun 2019 ini, emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI seluruhnya berjumlah 15 emisi yang diterbitkan oleh 12 emiten dengan raihan dana sebesar Rp13,24 triliun.

Kata Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Dimas Ardhinugraha, pasar saham dan obligasi masih potensial untuk dijadikan tempat berinvestasi di tengah gejolak ekonomi global. ”Kami melihat, baik pasar saham maupun pasar obligasi Indonesia masih sangat berpotensi untuk tahun ini," ujarnya.

ihsg

Untuk pasar obligasi, lanjut Dimas, juga masih sangat berpotensi. Imbal hasil obligasi Indonesia dinilai masih di kisaran yang sangat atraktif, cukup tinggi dibandingkan negara kawasan lainnya. "Oleh karena itu, dengan kondisi ekonomi domestik yang lebih kondusif dibandingkan tahun lalu, sangat berpotensi mendukung dana asing masuk ke pasar obligasi Indonesia," kata Dimas.

Dimas menuturkan, pada awal 2019 banyak sekali orang yang sangat pesimis terhadap ekonomi 2019. Menurutnya, hal tersebut wajar saja, karena di 2018 lalu banyak terjadi faktor ketidakpastian. Pertama, kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve. Kedua, perang dagang antara Amerika Serikat dengan mitra dagangnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini