Masyarakat tidak lagi hanya terkoneksi dari satu tempat ke tempat lain di atas tanah, tapi juga di atas udara. Minneapolis, Hong Kong, dan Bangkok merupakan wilayah yang memiliki sistem demikian yang lebih maju. Kompleks Linked Hybrid di Beijing juga terhubung dengan skybridge.
Begitu pun dengan Pinnacle@Duxton di Singapura yang terdiri atas 51 lantai dan Velo di Seoul, Korea Selatan (Korsel), yang terdiri atas 30 lantai. Semuanya terhubung de ngan skypark atau skybridge . Tren ini muncul menyusul semakin menyempitnya lahan kosong.
Pada tahun lalu firma engineering asal Jerman, Thyssen Krupp menguak teknologi baru sistem elevator horizontal vertikal. “Sebagai seorang arsitek dan insinyur, saya tidak perlu lagi berpikir lift merupakan pusat bangunan. Saya dapat meletakkannya di mana saja yang saya suka,” kata CEO ThyssenKrupp, Michael Cesarz.
Kepala Energi Berkelanjutan di JLL Asia-Pasifik, Matthew Clifford, meyakini koneksi antargedung pencakar langit akan memberikan dampak positif secara lingkungan.
Sebab hal itu dapat mengurangi lalu lintas dan tingkat polusi. Namun dia memperingatkan penggunaan bangunan demikian harus diatur secara cermat. “Gedung itu bisa menjadi area eksklusif yang dilengkapi dengan restoran mewah dan makanan kelas atas.
Hanya segelintir orang yang me nikmati fasilitas tersebut. Risikonya jelas akan menghantam sektor sosial,” kata Clifford. Skybridge di Raffles City Chongqing dilaporkan akan dibuka untuk umum, terutama taman dan stasiun. (Muh Shamil)
(Dani Jumadil Akhir)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.