nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tren Rupiah Kian Menguat, BI: Tinggal Masalah Brexit

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2019 18:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 05 278 2026219 tren-rupiah-kian-menguat-bi-tinggal-masalah-brexit-LqzsfsetLZ.jpg Foto: Rupiah Menguat (Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyebut kurs nilai tukar Rupiah akan semakin menguat di tahun ini sebab tekanan global kian mereda. Bloomberg Dollar Index mencatat, nilai tukar Rupiah saat ini pada perdagangan spot exchange berada level Rp14.172 per USD.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menyatakan, tekanan ketidakpastian ekonomi global pada tahun lalu sangat tinggi menyebabkan Rupiah terdepresiasi dalam. Sebaliknya, tahun ini tekanan tersebut mereda ditandai dengan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan China untuk menemukan kesepakatan mengakhiri perang dagang.

 Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.127/USD

Di sisi lain, kebijakan normalisasi moneter The Federal Reserve (The Fed) kian melambat. Bank Sentral AS itu diproyeksikan hanya menaikkan suku bunganya satu kali disepanjang tahun 2019, di mana pada tahun lalu mencapai empat kali.

"Tinggal Brexit yang belum selesai. Lalu beberapa hal yang terkait risiko geopolitik juga tidak sebesar dulu," kata Nanang ditemui di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Dengan sejumlah kondisi global yang menunjukkan perbaikan itu, Nanang meyakini Rupiah kian perkasa ke depannya. "Jadi hemat saya kecenderungannya masih ada ruang untuk menguat, sebab Rupiah masih undervalue," katanya.

 Baca Juga: Rupiah Tertekan ke Rp14.125/USD, Jamu Gubernur BI Belum Ampuh

Kendati demikian, dia mengakui, kebutuhan valas di dalam negeri cukup tinggi, mengingat pesatnya laju impor Indonesia ketimbang ekspor. Saat ini, kebutuhan tersebut pun terpenuhi dengan masuknya aliran modal asing (capital inflow) maupuan masuknya Devisa Hasil Eksportir (DHE).

"Makanya Rupiah tidak terlalu fluktuasi dan ini dibantu dengan pasar Fomestic Non-Deliverable Forward (DNDF), banyak yang sudah lakukan hedging. Dengan melakukan hedging pelaku pasar tidak terburu-buru beli (dolar AS) ke pasar spot," katanya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini