nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi Beberkan Ancaman Revolusi Digital di Sektor Konstruksi

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 12 Maret 2019 15:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 12 470 2028911 presiden-jokowi-beberkan-ancaman-revolusi-digital-di-sektor-konstruksi-I5FjLT8WjL.jpg Presiden Jokowi Bagikan Sertifikat Tenaga Konstruksi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo meminta seluruh tenaga konstruksi untuk berhati-hati dalam menghadapi revolusi digital. Pasalnya, ancaman revolusi digital begitu nyata termasuk di sektor konstruksi.

Menurut Jokowi, setiap harinya lahir teknologi- teknologi baru di sektor konstruksi. Bahkan, perubahan ini juga membuat pekerjaan di sektor konstruksi bisa diselesaikan semakin cepat.

"Kita semuanya yang hadir di sini dunia konstruksi berubah cepat sangat cepat. Setiap hari lahir teknologi-teknologi baru yang merubah cara kerja," ujarnya dalam acara peluncuran sertifikat tenaga konstruksi di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Baca Juga: Bahagianya Presiden Jokowi Bagikan 16.000 Sertifikat Tenaga Kerja Konstruksi

Sebagai salah satu contohnya adalah muncul teknologi 3D Printing. Teknologi ini membuat pembangunan rumah bisa dilakukan hanya dalam waktu 24 jam saja.

"Kita tahu sekarang mulai terkenal 3D printing. Membuat rumah hanya dalam waktu 24 jam. Bukan hanya itu tapi sudah kejadian," jelasnya.

Tak hanya itu lanjut Jokowi, sistem prefabikasi juga saat ini sudah lebih cepat dibandingkan dahulu. Sebagai salah satu contohnya adalah dalam pembangunan jembatan Holtecamp di Papua.

"Sistem prefrabication juga untuk semua hal dibuat serba cepat. Jadi sistem prefrabication ini sudah dibuat di tempat lain tinggal sambung-menyambung seperti Jembatan di Jayapura itu Holtecamp," ujarnya.

Baca Juga: Menteri Basuki: Aceh Membutuhkan 3.000 Pekerja Konstruksi Bersertifikat

Pembuatan jembatan Holtecamp sendiri dilakukan lewat metode prefrabication. Di mana, pembangunan sendiri dilakukan di Surabaya dan dipasang di Jayapura.

"Holtecamp sendiri dibuat di Surabaya, dibawa ke sana, sambung-sambung lalu jadi ini perubahan teknologi yang harus kita kenali, kita ngeri dan kita respon sehingga harus belajar," jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini