nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Harga Minyak Naik 2% karena Pasokan Melemah

Kamis 14 Maret 2019 08:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 14 320 2029729 harga-minyak-naik-2-karena-pasokan-melemah-4opEsY6idT.jpg Harga minyak (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Harga minyak berjangka menguat sekitar 2% pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), karena persediaan minyak mentah AS secara tak terduga turun dan perkiraan resmi pertumbuhan pasokan minyak mentah dari produsen-produsen utama dunia direvisi lebih rendah.

Pemadaman listrik yang meluas di Venezuela yang telah menghentikan ekspor minyak mentah dari negara anggota OPEC yang telah mengalami pengurangan pengiriman dari sanksi-sanksi AS, juga membantu memperketat pasar.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei, naik USD0,88 atau 1,32%, menjadi ditutup pada USD67,55 per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara itu, minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, naik USD1,39 atau 2,44%, menjadi menetap pada USD58,26 per barel di New York Mercantile Exchange. Kedua acuan harga minyak berakhir di level tertinggi sejak pertengahan November.

Baca Juga: Harga Minyak Naik karena Pasokan AS Diprediksi Turun

Stok minyak mentah AS turun pekan lalu karena kilang-kilang meningkatkan produksi, kata Badan Informasi Energi AS (EIA). Persediaan minyak mentah AS turun 3,9 juta barel di minggu lalu, dibandingkan dengan ekspektasi para analis untuk kenaikan 2,7 juta barel.

Data EIA lainnya menunjukkan produksi minyak mentah AS turun dari rekor tertinggi, berkurang 100.000 barel per hari (bph) menjadi 12 juta barel per hari minggu lalu. EIA merevisi turun perkiraan untuk pertumbuhan produksi minyak mentah domestik pada 2019. EIA juga merevisi turun angka proyeksinya untuk produksi 2020.

Kilang Minyak

Harga minyak juga mendapat dukungan dari pemangkasan pasokan yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.

Arab Saudi mengindikasikan pihaknya akan memangkas ekspor pada April. Menteri Energi Khalid al-Falih, hari sebelumnya, mengatakan perjanjian pembatasan produksi kemungkinan akan berlangsung hingga setidaknya Juni, demikian dilansir Antaranews, Kamis (14/3/2019).

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini