Harga Naik Tajam, Bulog Bakal Impor 100.000 Ton Bawang Putih

Selasa 19 Maret 2019 09:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 19 320 2031946 harga-naik-tajam-bulog-bakal-impor-100-000-ton-bawang-putih-3y7bT7ovWo.jpg Bawang Putih (Foto: Antara)

JAKARTA - Pemerintah mencari upaya mengendalikan kenaikan harga bawang putih yang terjadi dalam beberapa waktu belakangan. Kenaikan harga bawang putih diketahui terjadi hampir di seluruh wilayah.

Tercatat, kenaikan harga bawang putih di beberapa pasar tradisional bahkan mencapai 100%. "Bawang putih saja ya yang harganya agak tinggi. Coba tanya BPS (Badan Pusat Statistik) deh. (Kenaikan) saya lihatnya nasional," ujar Direktur Jenderal Perdagangan dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Tjahya Widayanti di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (19/3/2019).

Baca Juga: Petani Bawang Merah Brebes Panen, Hasilnya Untung

Naiknya harga bawang putih disebabkan minimnya stok, yang diakibatkan belum adanya izin impor yang diberikan oleh Kementerian Pertanian untuk tahun ini.

Tjahya mengatakan, mayoritas atau sebanyak 90% kebutuhan bawang putih selama ini berasal dari impor. Meski demikian, pemerintah belum memutuskan akan membuka keran impor kembali untuk mengendalikan kenaikan harga bawang putih.

Harga Bawang Putih Tingkat Konsumen Dipatok Rp38 Ribu per Kg 

"Itu tadi (dibahas) mengenai beras, bawang putih juga jagung. Soal bawang putih, kita lihat kemungkinan iklim yang terjadi nanti ke depannya sehingga ini (impor) setop, masih ada enggak, gitu. Langkahnya ya, kan itu (bawang putih) 90% impor ya," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, pemerintah sudah menugaskan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk menjaga ketersediaan pasokan bawang putih agar tidak sampai terjadi kelangkaan. Langkah ini diproyeksikan mampu menekan harga bawang putih di pasaran.

"Ya bawang putih kan memang sudah mau penugasan kepada Bulog ya, tapi tidak seluruhnya. Tadi pak Menko mengatakan sekitar 100.000 ton, seperenam dari 600.000 ton," ucap Hendriadi.

(Rully Ramli-iNews)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini