nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Proyeksi Neraca Pembayaran Surplus di Kuartal I-2019

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 21 Maret 2019 19:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 21 20 2033255 bi-proyeksi-neraca-pembayaran-surplus-di-kuartal-i-2019-mIRUrRS4IS.jpg Bank Indonesia (Foto: BI)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperkirakan neraca pembayaran pada kuartal I 2019 akan mengalami surplus. Hal ini didorong derasnya aliran masuk modal asing (capital inflows).

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, pada kuartal I 2019 defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD) akan mengalami penurunan. Hal itu seiring dengan peningkatan surplus neraca modal akibat masuknya investasi asing lewat Surat Berharga Negara (SBN) maupun portofolio saham.

"Perkiraan kami di kuartal I 2019 itu defisit transaksi berjalan akan menurun. Sementara itu, surplus neraca modal akan naik, terutama dari aliran modal asing masuk, khsusnya dalam portofolio investasi di dalam SBN," ujarnya di Kantor Pusat BI, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Bank Sentral mencatat hingga Februari 2019 aliran masuk modal asing mencapai USD6,3 miliar. Di sisi lain, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus USD330 juta pada Februari 2019 yang dipengaruhi penurunan impor nonmigas, di tengah ekspor nonmigas yang juga menurun.

Baca Juga: Bocoran Bos BI: Neraca Pembayaran Surplus USD5 Miliar di Kuartal IV-2018

Dengan perkembangan ini, posisi cadangan devisa pada akhir Februari 2019 cukup tinggi yakni USD123,3 miliar. Setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri

"Maka melihat kondisi demikian, perkiraan kami di kuartal pertama secara keseluruhan neraca pembayaran akan mengalami surplus," ujar Perry.

Baca Juga: Neraca Pembayaran Indonesia 2018 Catat Defisit USD7,1 Miliar

Oleh sebab itu, untuk menekan CAD juga meningkatkan neraca modal, BI akan terus mengoptimalkan sinergi dengan pemerintah dan kementerian/lembaga (K/L) terkait lainnya. Kata dia, sektor pariwisata menjadi salah satu fokus utama dari sinergi antara BI dan pemerintah.

"Pariwisata itu kan sumber devisa terbesar setelah kelapa sawit dan batu bara, terlebih dengan (target devisa sektor pariwisata) tahun ini USD17,6 miliar. Peran pariwisata sangat penting dalam menurunkan dan mengendalikan CAD, selain sebagai sumber devisa," jelas dia.

Selain sektor pariwisata, Perry menambahkan, Penanaman Modal Asing (PMA) juga menghasilkan sumber devisa yang besar, sehingga turut menjadi fokus BI dan pemerintah. "Kami juga terus berupaya mendorong investasi portofolio," tutupnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini