nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mau Ngutang Tapi Hasilkan Uang? Begini Caranya

Minggu 24 Maret 2019 07:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 22 320 2033420 mau-ngutang-tapi-hasilkan-uang-begini-caranya-6FQ7s4gHnI.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Ketika ingin memulai usaha, sering kali orang terpaku pada urusan modal. Ujung-ujungnya niat berbisnis pun hilang begitu saja. Dalam materi Business Revolution, sebenarnya ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk mendapatkan modal tersebut, salah satunya dengan berhutang.

Eits, jangan langsung parno mendengar kata utang. Tidak selamanya utang itu membawa keburukan. Melansir CekAja.com, umumnya utang dibagi menjadi dua jenis, yaitu produktif dan konsumtif. Berikut perbedaan antar keduanya:

Utang produktif

Sesuai namanya, utang produktif memiliki nilai yang selalu tumbuh dari waktu ke waktu. Utang ini bisa membantumu untuk berinvestasi dan menghasilkan uang kembali. Jadi, tidak sekedar berfoya-foya semata. Adapun contoh utang produktif adalah ketika menggunakan kartu kredit untuk mengajukan KTA demi mengembangkan bisnis tertentu.

Baca Juga: Mau Ngutang ke Bank? Kenali Dulu BI Checking

Utang konsumtif

Lain halnya dengan utang konsumtif, dimana nilainya justru semakin berkurang dari waktu ke waktu. Biasanya utang tersebut digunakan untuk memenuhi gaya hidup semata. Contohnya ketika seseorang berhutang untuk membeli gadget terbaru, seperti smartphone misalnya. Tidak ada nilai yang bisa bertumbuh dari pembelian smartphone itu jika fiturnya tidak dapat digunakan untuk menambah penghasilan. Dari sini, tentu kamu dapat menyimpulkan bahwa utang yang baik adalah jika digunakan untuk hal-hal produktif. Selain untuk membangun usaha, menambah aset investasi, dan lain sebagainya.

Sebagian besar pengusaha bahkan pernah berhutang. Namun perlu diingat, mereka hanya memanfaatkan fasilitas dari bank tersebut untuk dijadikan kegiatan yang produktif. Tak lain demi membangun bisnisnya dari nol, hingga berkembang pesat.

rupiah

Aturan Main Dalam Berhutang

Tahu aturan main, itulah prinsip yang harus diterapkan ketika hendak berhutang. Perhatikan rasio utang dengan penghasilanmu. Rasio utang adalah alokasi dari pengeluaran yang digunakan untuk membayar pinjaman dibandingkan dengan jumlah seluruh pendapatan.

Haram jika total utangmu melebihi 30 persen. Semisal jika pendapatan bulananmu Rp10.000.000, sedangkan pembayaran pinjaman sebesar Rp5.500.000, maka rasio utangmu adalah 55%. Rasio ini sudah tergolong membahayakan bagi keuangan, terlebih bila kamu sudah berkeluarga.

Namun tidak dapat dipungkiri, sebagian orang pun memiliki rasio utang cukup besar dari angka ideal. Contohnya ketika pinjaman tersebut digunakan untuk membuka bisnis franchise mini market.

Butuh dana setidaknya Rp 500 juta demi memenuhi bisnis tersebut. Lantas bagaimana? Selama sisa pendapatan masih bisa dikeola dengan baik, sebenarnya tidak masalah. Apalagi kalau usaha ini kelak menghasilkan lebih banyak pundi-pundi uang.

Menyulap KTA Menjadi Utang Produktif

Di Indonesia utang konsumtif ditawarkan dalam banyak jenis, seperti tanpa agunan (KTA). Namun tidak selamanya pendanaan ini akan menghabiskan uangmu semata.

Sekarang muncul pertanyaan baru, “Lalu bagaimana cara menggunakan utang pinjaman lebih menghasilkan secara materi?.” Berikut ini tips menyulap pinjaman tersebut menjadi utang produktif:

Jadikan ilmu dan bisnis menguntungkan

Utang yang kamu miliki harus ada manfaat finansialnya. Semisal, ketika menggunakan KTA untuk mengambil kursus makeup.

Katakanlah kursus tersebut membutuhkan dana sebesar Rp 50 juta. Berbekal ilmu yang diemban, kamu bisa langsung menjadi seorang makeup artist sekaligus membuka kelas private makeup.

Dari usaha yang dijalankan nanti, keuntungannya bukan hanya bisa kamu nikmati sendiri. Tapi juga cukup jika digunakan untuk melunasi utang pinjaman, membeli alat-alat kebutuhan makeup, dan menabung sisanya.

rupiah

Salurkan untuk aset

Lalu, salurkan utang tersebut menjadi suatu aset berharga yang menghasilkan uang. Dengan KTA, kamu juga bisa menggunakannya untuk membeli aset seperti apartemen atau mobil.

Kesannya memang konsumtif, tapi kedua benda ini sangat produktif. Apartemen ini nantinya bukan untuk ditempati, begitu pun mobil yang tak hanya digunakan secara pribadi. Melainkan disewakan dengan biaya lebih tinggi dari cicilan pinjamanmu per bulannya. Untung, bukan?

Disiplin dalam mencicil

Ini bukan sekadar aturan dalam berhutang saja. Menjadikan KTA sebagai utang produktif pun, harus dituntut untuk disiplin membayar cicilan.

Jika sesekali lalai, hasil usaha dan aset terpaksa menjadi ‘korban’. Kamu akan menggunakannya untuk membayar tunggakan yang berjumlah lebih besar.

Dengan selalu membayar cicilan tepat waktu, percayalah utang tidak akan selamanya membebanimu. Utang akan selalu menjadi momok bagi mereka yang kurang paham cara mengelola dan disiplin dengan hal ini.

Sekalipun memiliki utang konsumtif, kamu bisa mengubahnya menjadi utang produktif. Contoh sederhananya, jika terpaksa harus berbelanja untuk kebutuhan usaha menggunakan kartu kredit. Dengan cicilan ringan dan diskon menarik, kamu tetap menjadikannya sebagai utang produktif. Terlebih jika diimbangi dengan pelunasan full sebelum jatuh tempo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini