JAKARTA - Harga minyak mentah turun sekitar dua% pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), tergelincir lebih jauh dari tertinggi 2019, karena fokus bergeser ke kurangnya kemajuan dalam pembicaraan perdagangan Amerika Serikat (AS)-China dan data manufaktur suram dari Jerman dan AS menyalakan kembali kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan permintaan minyak.
Baca Juga: Harga Minyak Jatuh di Tengah Perkasanya Dolar
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun USD0,83 atau 1,2%, menjadi ditutup pada USD67,03 per barel di London ICE Futures Exchange, dan turun sekitar 0,2% pada minggu ini. Kontrak mencapai level tertinggi empat bulan di USD68,69, dilansir Antaranews, Sabtu (23/3/2019).
Acuan global minyak mentah Brent telah meningkat lebih dari 20% sejak awal Januari, karena pemotongan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, seperti Rusia, dan sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun USD0,94 atau 1,6%, menjadi menetap pada USD59,04 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencapai tertinggi 2019 di USD60,39 dan naik 0,8% pada minggu ini.
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa stok minggu lalu turun hampir 10 juta barel, terbesar sejak Juli, berkat ekspor dan permintaan penyulingan yang kuat. Karena pertumbuhan ekonomi melambat di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar, tidak ada terobosan yang muncul dalam kebuntuan perdagangan antara Washington dan Beijing, setidaknya sebelum pertemuan yang dijadwalkan pada 28-29 Maret.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.