Impor Bawang Putih 100 Ribu Ton, Bulog Tunggu Aba-Aba Menteri Rini

Minggu 24 Maret 2019 13:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 24 320 2034225 impor-bawang-putih-100-ribu-ton-bulog-tunggu-aba-aba-menteri-rini-gikm9fIymx.jpg Bawang Putih (Foto: Okezone)

JAKARTA - Perum Bulog tengah melengkapi persyaratan administrasi untuk mengimpor bawang putih sebesar 100.000 ton, yang salah satunya menunggu surat penugasan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) keluar.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Bachtiar Utomo menjelaskan bahwa perseroan harus terlebih dahulu mendapatkan rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian.

"Kementerian Pertanian pasti sudah mengizinkan berdasarkan hasil rakortas itu. Yang ditunggu Bulog sekarang tinggal surat penugasan dari Menteri BUMN," kata Bachtiar saat dihubungi Antara, dikutip dari Antaranews, di Jakarta, Minggu (24/3/2019).

Baca Juga: Petani Bawang Merah Brebes Panen, Hasilnya Untung

Setelah mendapat kelengkapan administrasi dari Kementerian Pertanian dan Kementerian BUMN, maka proses selanjutnya adalah mengajukan izin ke Kementerian Perdagangan untuk mendapatkan persetujuan impor (PI).

Segera setelah administrasi lengkap, Bulog akan langsung melakukan lelang impor bawang putih secara terbuka. Bawang putih sebanyak 100.000 ton rencananya akan didatangkan dari Tiongkok secara bertahap mulai April 2019.

"Kita langsung tender untuk cari barang termurah. Kalau China tidak terlalu lama, tidak seperti Brasil dan Argentina, sekitar tiga mingguan. Kami usahakan bulan April sudah masuk," kata Bachtiar.

Baca Juga: Harga Naik Tajam, Bulog Bakal Impor 100.000 Ton Bawang Putih

Keputusan pemerintah untuk membuka impor bawang putih sebesar 100.000 ton melalui Bulog berdasarkan rakor terbatas pada Senin (18/3/2019) yang dipimpin Menko Perekonomian Darmin Nasution.

Rakor tersebut dilatari adanya kenaikan harga komoditas bawang putih hingga rata-rata mencapai Rp45.000-Rp50.000 per kilogram di tingkat pedagang karena berkurangnya pasokan.

Bawang putih, dalam catatan Kementerian Perdagangan, menjadi salah satu bahan pangan yang dijaga stabilitas harganya karena memberi kontribusi inflasi pada Februari 2019.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini