JAKARTA - Indonesia telah resmi memiliki moda transportasi MRT (Mass Rapid Transit/ Moda Raya Terpadu). Sayangnya, kehadiran transportasi modern ini disambut dengan euforia yang salah oleh sebagian masyarakat.
Di mana terdapat masyarakat yang bergelantungan pada hand grip dalam kereta, berdiri di atas kursi, buang sampah sembarangan, hingga makan nasi bungkus layaknya piknik di dalam stasiun MRT.
Staf Ahli Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN) bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widyasanti menilai, perilaku penggunaan MRT itu merupakan bagian dari perlunya Indonesia transformasi sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga: Fakta Menarik Tarif MRT Rp8.500, Nomor 6 Bisa Batal
Dia menjelaskan, salah satu kunci sebuah negara bisa naik kelas dari negara berkembang ke negara maju adalah reformasi struktural. Reformasi ini mencakup banyak hal, mulai dari sisi ekonomi termasuk industrialisasi, hingga transformasi sumber daya manusia (SDM).
"Contoh yang kemarin lagi viral, kita punya MRT canggih tapi kalau kultur belom seiring, MRT itu jadi area piknik, gantung-gantungan. Maka ini harus berubah dari low skill menjadi high skill, dari easy going culture menjadi hard working culture. Jadinya era digital bukan tantangan atau disrupsi tapi peluang," jelasnya dalam acara Diskusi 100 Ekonom Perempuan Memandang Indonesia ke Depan di Hotel Century Park, Jakarta, Senin (26/3/2019).