nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Potensi Industri Produk Kesehatan RI Masih Besar

Rabu 27 Maret 2019 16:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 27 320 2035695 potensi-industri-produk-kesehatan-ri-masih-besar-je5eY7FwJH.jpg Dokter Ilustrasi (Foto: Xconomy)

JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebut industri farmasi di Indonesia khususnya sektor, yang menghasilkan produk kesehatan masih cukup prospektif untuk berkembang, yang dipicu terutama adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan jumlah peserta sebanyak 217 juta jiwa.

“Tentu potensi tersebut menjadi kesempatan untuk pengembangan industri farmasi di Indonesia,” katanua lewat keterangannya diterima di Jakarta, dikutip dari Antaranews, Rabu (27/3/2019).

Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015-2035 menyebutkan, industri farmasi dan bahan farmasi merupakan salah satu sektor manufaktur andalan yang mendapatkan prioritas pengembangan karena berperan besar sebagai penggerak utama perekonomian nasional.

Baca Juga: Kenangan Masa Kecil Wapres JK tentang Produk Buatan Napi

“Sebagai sektor andalan masa depan, industri farmasi dan bahan farmasi, akan kami terus dorong pengembangannya melalui berbagai kemudahan dan insentif berupa pengurangan pajak maupun bea masuk yang ditanggung pemerintah serta bentuk insentif lainnya,” tutur Airlangga.

Hal itu didukung adanya Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Baca Juga: Nostalgia Wapres JK yang Pernah Jadi Menteri Tersingkat di Era Gusdur

Regulasi ini menginstruksikan 12 kementerian dan lembaga agar saling bersinergi dan mendukung dalam mendorong kemandirian obat nasional.

“Oleh karena itu, industri farmasi harus terus dipacu untuk ekspansi dan investasi baru. Sebab, untuk menekan impor perlu ada investasi, selain itu bea ekspor produk farmasi ke banyak negara masih nol persen sehingga menjadi potensi besar bagi Indonesia dalam pengembangan sektor ini,” paparnya.

Menperin menambahkan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pemerintah konsisten untuk meningkatkan nilai ekspor dan mengurangi defisit melalui substitusi impor.

“Pada 2018, sektor nonmigas itu positif, sehingga harus terus digenjot agar sektor nonmigas berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional,” jelasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini