nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekonomi AS Terancam Resesi, Investor Mulai Gelisah

Minggu 31 Maret 2019 16:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 03 31 20 2037335 ekonomi-as-terancam-resesi-investor-mulai-gelisah-iuvjSdDK2A.jpg Foto: Reuters

NEW YORK - Para investor di bursa saham Wall Street memantau ketat data ekonomi Amerika Serikat (AS) minggu depan, setelah laporan pekerjaan pada Februari 2019 yang suram dan sinyal peringatan resesi di negara tersebut akibat imbal hasil obligasi yang terbalik.

Setelah penutupan pemerintahan AS yang terpanjang, cuaca buruk, dan penjualan saham oleh para pelaku pasar pada akhir 2018, mereka berharap untuk pandangan yang lebih jelas dari data yang akan datang.

Mereka cemas sejak imbal hasil obligasi 10-tahun AS pada Jumat lalu jatuh di bawah imbal hasil tagihan obligasi tiga bulan, untuk pertama kalinya sejak 2007.

"Investor akan menjadi sangat sensitif soal data," kata Kepala Investasi Cresset Capital Management, Jack Ablin di Chicago, AS. Menurut dia, pembalikan kurva imbal hasil adalah manifestasi dari kekhawatiran investor bahwa AS akan terjebak dalam perlambatan global. Demikian seperti dikutip Antaranews, Jakarta, Minggu (31/3/2019).

 Baca Juga: AS Terancam Resesi, The Fed Diminta Turunkan Suku Bunga

Banyak investor tidak mengharapkan resesi AS dalam waktu dekat dan mereka mencari konfirmasi untuk optimisme minggu depan, termasuk data tentang penjualan ritel, aktivitas manufaktur, pesanan barang tahan lama, dan gaji non-pertanian.

Data penjualan ritel pada Februari dan laporan pekerjaan Maret akan menjadi data yang paling dipantau oleh para ekonom yang ingin mengetahui daya beli dan kepercayaan konsumen AS, yang mewakili sekitar 70% dari ekonomi AS .

Pertumbuhan penggajian non-pertanian AS hampir terhenti pada Februari, dengan hanya menciptakan 20.000 pekerjaan. Survei ekonomi oleh Reuters memperkirakan rata-rata tercipta 170.000 pekerjaan baru pada Maret.

Sedangkan penjualan ritel Januari naik 0,2% setelah penurunan Desember. Namun hal itu tidak terlihat cukup kuat untuk mengubah momentum ekonomi AS yang melambat. Ekonom, rata-rata, memperkirakan kenaikan penjualan ritel 0,3% pada Pebruari.

"Jika kita menyaksikan goyahnya konsumen AS, itu akan sangat sulit bagi pasar, yang mengandalkan konsumen AS untuk mendorong siklus setidaknya satu tahun lagi," kata Kepala Strategi Makro Manulife Frances Donald di Toronto

 Baca Juga: Ancaman Resesi Ekonomi Amerika Justru Untungkan Indonesia, Kenapa?

Dia mengharapkan baik penjualan ritel dan pekerjaan bangkit setelah terpuruk akibat penutupan pemerintah Desember 2018 hingga Januari 2019. Dia mengatakan akan memantau data barang tahan lama untuk melihat belanja modal perusahaan.

"Saya memiliki lebih sedikit keyakinan belanja modal akan naik, tetapi jika kita melihat peningkatan, itu akan menjadi kejutan yang substansial," ujarnya.

Belanja modal yang kuat itu juga bakal mengejutkan Kepala Strategi Pasar TD Ameritrade, JJ Kinahan, yang mengatakan perusahaan telah menghentikan pengeluaran karena menunggu hasil pembicaraan perdagangan AS-China. Ia mengatakan ketegangan AS-Cina akan membuat reaksi pasar diam terhadap data "kecuali jika itu terlalu jauh ke atas atau ke bawah."

Kedua negara akan bernegosiasi di Washington DC minggu depan, setelah Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan pembicaraan yang konstruktif di Beijing minggu ini.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini