Menteri Energi Saudi Khalid Al Falih menjelaskan pada Reuters bahwa negara itu berencana meluncurkan IPO Aramco pada 2021. Para pejabat Saudi sebelumnya mengungkapkan penjualan 5% saham Aramco dapat mengumpulkan dana USD100 miliar yang dapat digunakan untuk membiayai Visi 2030, cetak biru untuk bentuk ekonomi Saudi pada dekade mendatang.
Audit independen ini pun menegaskan nilai dan kekuatan Aramco sebagai perusahaan minyak terbesar di dunia. “Sertifikasi ini menegaskan mengapa kami yakin Saudi Aramco sebagai perusahaan paling bernilai di dunia dan benar-benar sebagai yang paling penting di dunia,” tutur Menteri Energi Al Falih, di lansir CNN .
Saudi memompa minyak di level rekor pada 2018, termasuk output 11 juta barel per hari pada November. “Itu menjadikan kapasitas cadangan sangat rendah, lebih rendah dibandingkan 1,5 hingga 2 juta barel per hari yang mereka biasa targetkan,” kata Spencer Welch, direktur eksekutif pasar minyak di IHS Markit.
“Pengumuman audit ini berarti Saudi telah melakukan lebih banyak pengeboran dan telah menemukan lebih banyak minyak. Pengeboran tambahan itu tampaknya sebagai upaya memperoleh lagi beberapa kapasitas produksi yang hilang,” tutur Welch.
Pada Desember 2018, Saudi sepakat dengan negara-negara anggota OPEC dan produsen minyak lainnya, termasuk Rusia untuk memangkas produksi lebih lanjut demi mendorong harga minyak. Aramco juga meningkatkan investasi dalam pengilangan dan petrokimia demi mengamankan pasar baru untuk minyak mentahnya.
Chief Executive Officer (CEO) Sabic Yousef al-Benyan menjelaskan, Aramco akan mengandalkan Sabic untuk menjadi sayap petrokimia. Aramco akan mendorong pertum buhan dan membantu perkembangan Sabic dari posisi sekarang sebagai perusahaan petrokimia terbesar ketiga di dunia.
Benyan menyatakan, masih terlalu dini untuk menyatakan aset dan pasar yang akan diintegrasikan antara Aramco dan Sabic. “Sejak Aramco aktif dalam industri kimia, orang mengatakan mengapa membuat Aramco dan Sabic bersaing dalam ruang yang sama dan saya pikir kami memiliki peluang untuk menambah nilai bagi pemegang saham kedua perusahaan,” ungkapnya.
Awal tahun ini perusahaan teknologi Apple Inc mengambil langkah tidak biasa dengan memangkas perkiraan penjualan pada kuartal pertama 2019. Ini merupakan imbas dari tergerusnya nilai pasar Apple dalam tiga bulan terakhir. Pada kurun Oktober-Desember 2018 nilai pasar Apple anjlok 38% atau USD445,25 miliar (Rp6.456 triliun).