Pesona dan Daya Tarik Masjid Kubah Emas

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 09 April 2019 11:25 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 09 470 2040940 pesona-dan-daya-tarik-masjid-kubah-emas-VqLbJ3UJLQ.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sesuai namanya, yaitu Kubah Emas, masjid ini dilapisi emas di sejumlah bagian, antara lain, di bagian kubah.

Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001. Pembangunan masjid ini cukup lama karena material bangunan didatangkan dari luar negeri. Pembangunan masjid termegah di Asia Tenggara ini dikerjakan sekitar enam tahun sampai pada akhirnya dibuka untuk umum pada 31 Desember 2016.

Pemilik masjid ini adalah almarhumah Hj Dian Djuriah atau dikenal dengan Dian Al Mahri. Pengusaha asal Banten itu tutup usia di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat 29 Maret 2019, sekitar pukul 02.15 WIB.

Masjid ini berada di kawasan tersendiri dengan total lahan keseluruhan 70 hektare. Masjid yang dikenal megah ini tak hanya dibuka untuk ibadah, tetapi juga menjadi tempat wisata religi. Semasa hidup, almarhumah Dian Al Mahri sangat menyenangi tanaman.

 Baca Juga: Ribuan Jamaah Menyalatkan Jenazah Pendiri Masjid Kubah Emas Dian Al Mahri

Tak heran, begitu masuk dari pintu gerbang menuju masjid pun dipenuhi dengan ratusan tanaman dan pohon rindang. Ketika KORAN SINDO berkunjung, terlihat dari pintu gerbang kilauan kekuningan dari kubah masjid. Jarak dari pintu gerbang menuju masjid sekitar 2 kilometer.

Berada di area kompleks masjid nan mewah ini sungguh menyejukkan hati. Terlebih ketika sudah ada di dalam bangunan masjid. Suasana di dalamnya begitu sangat sejuk dan menenangkan. Kompleks masjid ini terdiri atas tiga bangunan. Pertama adalah masjid yang merupakan bangunan utama.

Kedua adalah rumah kediaman Dian Al Mahri. Ketiga adalah gedung aula pertemuan. Ketika membangun rumah Allah, Dian pun tak setengah hati. Dia bahkan sampai membeli granit dari Brasil.

Untuk emasnya sendiri dibeli dari Italia. Ada filosofi tersendiri ketika Dian membangun masjid dengan lima kubah. Kelima kubah menandakan rukun Islam. Dan, enam menara menandakan rukun iman.

Sekilas kemewahan masjid ini tentu tak lepas dari nilai uang yang dikeluarkan pemiliknya. Namun, pihak keluarga enggan menyebutkan berapa uang yang dihabiskan almarhumah ketika membangun.

“Kami sebagai anak, tidak boleh menghitung berapa biaya yang dikeluarkan. Jadi, sesuatu yang sudah diberikan, katanya, jangan diingat lagi,” kata Ratu Ayu Novianti, anak kedelapan almarhumah Dian Al Mahri.

 Baca Juga: Silsilah Masjid Kubah Emas

Diakui bahwa ibunya sangat senang membangun rumah ibadah. Semasa hidup sudah beberapa masjid yang dibangun dan diwakafkan.

Namun, yang terbesar memang Masjid Kubah Emas. Bahkan, Dian ikut dalam mendesain bangunan masjid dan dibantu oleh arsitek dalam negeri bernama Uke Setiawan. “Ibu sendiri yang desain, dibantu dengan Uke Setiawan,” katanya, mengenang.

Dia bahkan masih ingat ketika masjid pertama kali dibangun. Kala itu, kata dia, sekitar tahun 2001. “Membangun mesjid ini memakan waktu enam sampai tujuh tahun. Seingat saya, mulai dibangun sejak 2001,” ujarnya.

Masjid megah ini dibuka setiap hari dengan jam operasional yang telah diten tu kan. Untuk pagi hari dibuka mulai pukul 04.00-07.00 WIB atau ketika salat subuh sampai pagi. Kemudian akan ditutup pukul 07.00-10.00 WIB.

“Karena dilakukan pembersihan dan pengecekan karyawan,” kata Azhari, salah satu karyawan.

Kemudian masjid dibuka kembali pukul 10.00-20.00 WIB atau selepas waktu isya. Khusus hari Kamis, masjid dibuka sore hari.

“Karena, pagi hari dilakukan pembersihan total masjid untuk persiapan salat Jumat. Jadi, semua karpet dibersihkan,” ujarnya. (R Ratna Purnama)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini