nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ekonomi Amerika Terancam Kelas Menengah?

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 13:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 12 20 2042477 ekonomi-amerika-terancam-kelas-menengah-ZXYd5Mh1Mp.jpg Bendera AS (Foto: Reuters)

 NEW YORK – Jumlah kalangan kelas menengah di dunia terus menyusut. Penyebabnya adalah karena terimbas krisis ekonomi yang belum juga berakhir. Kondisi tersebut mengubah tatanan hidup golongan ini.

Berdasarkan laporan terbaru Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development/OECD), warga kelas menengah yang mengalami penyusutan ini termasuk negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Penelitian berjudul Under Pressure: The Squeezed Middle Class itu memaparkan, sejumlah masalah yang dihadapi kalangan kelas menengah. OECD memperingatkan keberlangsungan penyusutan kaum kelas menengah akan menyisakan konsekuensi serius terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pada zaman sekarang, kalangan kelas menengah tampak seperti sebuah perahu yang berada di atas bebatuan di lautan yang surut,” ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) OECD Angel Gurria dikutip CNN.

Baca Juga: Resesi Ekonomi AS, Aliran Modal Asing Deras Masuk RI

“Pemerintah harus mendengar kan keluhan mereka dan melindungi standar hidup kelas menengah,” tambah Gurria.

Kelas menengah telah menghadapi tekanan selama bertahun-tahun. Di AS, kondisi itu menyebabkan munculnya gerakan progresif dari Partai Demokrat untuk menaikkan pajak penghasilan bagi orang kaya. Namun, banyak kandidat presiden yang menjadikan Eropa sebagai contoh, sekalipun Eropa menghadapi masalah serupa.

Jumlah masyarakat kelas menengah di negara maju anjlok dari 64% pada 1980-an menjadi 61% pada pertengahan 2010-an. Penurunan terbesar terjadi di AS, Israel, Jerman, Kanada, Finlandia, dan Swedia. Di AS, jumlah kelas menengah mencapai 50% dari jumlah penduduk, jauh lebih sedikit dibandingkan negara maju lainnya.

as

Menurut OECD, kelas menengah adalah mereka yang memperoleh pendapatan antara 75-200% dari pendapatan rata-rata nasional. Salah satu faktor menyusutnya jumlah kelas menengah ialah meningkatnya ketidaksetaraan pendapatan. Selama 30 tahun terakhir, harta kekayaan hanya dipegang segelintir orang.

Pada saat bersamaan, OECD mengatakan biaya hidup terus meningkat, bahkan lebih cepat daripada laju inflasi di negara ma ju sehingga kelas menengah kesulitan mengimbanginya. Harga rumah, misalnya, tumbuh 1/3 lebih tinggi dan cepat dibandingkan pendapatan rata-rata masyarakat dalam beberapa dekade terakhir. Pada 2015, kelas menengah menghabiskan sekitar 32% dari total kekayaannya untuk tempat tinggal, termasuk sewa rumah.

Bandingkan dengan tahun 1985 yang hanya sebesar 25%. Satu dari lima warga kelas menengah bahkan memiliki arus pengeluaran yang tinggi dan jauh lebih besar dibandingkan arus pemasukannya. Situasi itu menyebabkan ekonomi nasional kehilangan traksi. Total pendapatan kelas menengah sekitar empat kali lebih tinggi dibanding total pendapatan kelas atas pada 1985. Namun, 30 tahun kemudian, rasio itu jatuh menjadi dua kali lipat.

“Mereka merupakan fondasi pertumbuhan inklusif suatu negara,” ungkap OECD. Dalam laporan tersebut, OECD juga menyebutkan, generasi muda saat ini kesulitan mendapatkan status kelas menengah dibandingkan generasi sebelumnya.

Menurut organisasi itu, kelas menengah merupakan mereka yang memiliki tempat tinggal nyaman dan memiliki gaya hidup terjangkau dengan karier yang stabil. Selain itu, kebutuhan anak-anak mereka juga dapat terpenuhi baik. Temuan lainnya, hampir 70% kelompok baby boomer merupakan warga kelas menengah saat mereka berusia 20 tahunan, bandingkan dengan Generasi X yang hanya mencapai 64% dan milenial 60%. Generasi baby boomer juga memperoleh dan memiliki pekerjaan yang lebih stabil di sepanjang hidupnya dibandingkan generasi muda saat ini.

Ketidakpastian pekerjaan dan pengangguran terus mening kat menyusul adanya transformasi pasar buruh akibat meluasnya globalisasi dan penggunaan teknologi. Satu dari enam peker jaan kelas menengah juga terancam hilang diambil alih otomatisasi. “Tren ini menciptakan kekhawatiran baru,” ungkap OECD.

OECD menawarkan sejumlah solusi untuk menyelesaikan isu ini, di antaranya dengan menurunkan pajak pendapatan kelas menengah, membangun perumahan, pendidikan, dan kesehatan yang terjangkau, membantu generasi muda memperoleh lapangan pekerjaan, dan memberikan pelatihan kemampuan dan soft skill.

(Muh Shamil)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini