nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Swasta Ditantang Masuk Bisnis Avtur di Daerah Terpencil

Jum'at 12 April 2019 17:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 12 320 2042651 swasta-ditantang-masuk-bisnis-avtur-di-daerah-terpencil-aRF3W17Qvg.jpg Ilustrasi: Foto Antara

JAKARTA - Mahalnya harga tiket pesawat sebelumnya diklaim karena mahalnya harga bahan bakar pesawat (avtur). Namun setelah harga avtur diturunkan, nyatanya harga tiket pesawat masih mahal.

Saat ini, hanya PT Pertamina (Persero) yang menjalankan bisnis avtur, baik di kota besar maupun daerah terpencil. Pihak swasta pun tertarik memasuki bisnis avtur. Tapi, pihak swasta ditantang untuk membangun bisnis avtur di wilayah remote atau terpencil.

“Jadi kalau pemerintah mau bikin kebijakan yang fair, sebaiknya menawarkan kepada badan usaha baru itu untuk membuka di wilayah wilayah yang memang dianggap baru. Tetapi apa ada yang mau?” kata pengamat BUMN Toto Pranoto di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

 Baca Juga: Menhub Minta Maskapai-Masyarakat Saling Pengertian soal Harga Tiket Pesawat

Aturan dalam Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sangat jelas dalam mengatur hal tersebut yang memberikan keleluasaan bagi pihak mana pun untuk berbisnis avtur asalkan memiliki izin dan memenuhi berbagai persyaratan.

Sebelumnya Pertamina meresmikan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Binaka, Gunung Sitoli, Kepulauan Nias. Ini menjadi bukti BUMN tidak hanya mencari keuntungan, namun juga bersedia masuk ke wilayah perintis yang terpencil, yang notabene sangat tidak menarik dari segi bisnis.

“Ini pengabdian yang sering dilakukan Pertamina sebagai BUMN. Mereka tetap melakukan pemerataan distribusi ke seluruh tanah air, termasuk ke wilayah yang tidak menguntungkan dari sisi ekonomi. Hal ini yang tidak bisa dilakukan perusahaan swasta atau asing,” kata Toto yang juga Managing Director Lembaga Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LMFEB UI).

Sebagai BUMN yang juga merupakan alat negara, lanjut Toto, Pertamina memang memiliki fungsi ganda. Pertama, harus mencari keuntungan. Dan kedua, harus menjalankan tugas sebagai agen of development. Dan dengan pengoperasian DPPU Gunung Sitoli, Toto menilai bahwa Pertamina sudah menjalankan kedua fungsi tersebut dengan baik.

 Baca Juga: Swasta Masuk Bisnis Avtur, Bos Pertamina: Tidak Masalah

Dalam kondisi demikian, menurut Toto, pengoperasian DPPU Gunung Sitoli yang berada di area remote juga berarti bahwa Pertamina sudah menjalankan fungsi keperintisan. Fungsi keperintisan tersebut memiliki peran strategis bagi pengembangan ekonomi wilayah setempat, karena hampir tak ada badan usaha lain, terutama swasta dan asing yang bersedia masuk ke wilayah kering tersebut.

Dalam konteks itu pula Toto berpendapat, jika Pemerintah lebih membuka pasar Avtur, hendaknya membuat kebijakan yang sama. Artinya, Pemerintah turut memberi penugasan kepada pemain baru tersebut untuk turut mengemban fungsi agent of development seperti yang dilakukan Pertamina.

(dni)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini