Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Swasta Ditantang Masuk Bisnis Avtur di Daerah Terpencil

Swasta Ditantang Masuk Bisnis Avtur di Daerah Terpencil
Ilustrasi: Foto Antara
A
A
A

JAKARTA - Mahalnya harga tiket pesawat sebelumnya diklaim karena mahalnya harga bahan bakar pesawat (avtur). Namun setelah harga avtur diturunkan, nyatanya harga tiket pesawat masih mahal.

Saat ini, hanya PT Pertamina (Persero) yang menjalankan bisnis avtur, baik di kota besar maupun daerah terpencil. Pihak swasta pun tertarik memasuki bisnis avtur. Tapi, pihak swasta ditantang untuk membangun bisnis avtur di wilayah remote atau terpencil.

“Jadi kalau pemerintah mau bikin kebijakan yang fair, sebaiknya menawarkan kepada badan usaha baru itu untuk membuka di wilayah wilayah yang memang dianggap baru. Tetapi apa ada yang mau?” kata pengamat BUMN Toto Pranoto di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

 Baca Juga: Menhub Minta Maskapai-Masyarakat Saling Pengertian soal Harga Tiket Pesawat

Aturan dalam Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sangat jelas dalam mengatur hal tersebut yang memberikan keleluasaan bagi pihak mana pun untuk berbisnis avtur asalkan memiliki izin dan memenuhi berbagai persyaratan.

Sebelumnya Pertamina meresmikan Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Binaka, Gunung Sitoli, Kepulauan Nias. Ini menjadi bukti BUMN tidak hanya mencari keuntungan, namun juga bersedia masuk ke wilayah perintis yang terpencil, yang notabene sangat tidak menarik dari segi bisnis.

“Ini pengabdian yang sering dilakukan Pertamina sebagai BUMN. Mereka tetap melakukan pemerataan distribusi ke seluruh tanah air, termasuk ke wilayah yang tidak menguntungkan dari sisi ekonomi. Hal ini yang tidak bisa dilakukan perusahaan swasta atau asing,” kata Toto yang juga Managing Director Lembaga Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LMFEB UI).

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement