nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Neraca Perdagangan Maret 2019 Diproyeksi Defisit

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 15 April 2019 09:39 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 15 20 2043570 neraca-perdagangan-maret-2019-diproyeksi-defisit-dXGH59YrWu.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 diproyeksi mengalami defisit, berbalik dari Februari 2019 yang surplus USD330 juta. Hal ini didorong meningkatnya laju impor di bulan Maret, di samping laju ekspor yang menurun karena tren penurunan harga komoditas.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, neraca perdagangan bulan lalu akan defisit sebesar USD464 juta. Dengan laju ekspor diperkirakan terkontraksi 14,65% (year on year/yoy) dan laju impor tumbuh melambat 4,81% yoy.

Dia menjelaskan, laju impor secara bulanan cenderung meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Hal itu terindikasi dari aktivitas manufaktur Indonesia bulan Maret yang tercatat meningkat menjadi 51,2 dari bulan sebelumnya 50,1.

Baca Juga: BPS Rilis Data Neraca Perdagangan Maret Hari Ini

"Maka kenaikan indeks manufaktur domestik tersebut mengindikasikan kebutuhan impor bahan baku cenderung meningkat dibandingkan bulan sebelumnya," ujar Josua kepada Okezone, Jakarta, Senin (15/4/2019).

Selain itu, nilai impor yang naik pada bulan Maret juga terefleksi dari peningkatan ekspor China ke Indonesia yang tercatat tumbuh 68% (month to month/mtm) dari bulan sebelumnya. Di mana pada bulan Februari ekspor China ke Indonesia terkontraksi 40% mtm yang terdorong faktor musiman libur perayaan tahun baru membuat perdagangan antar kedua negara terhenti sementara.

"Di sisi lainnya, ekspor cenderung masih terkontraksi di tengah tren penurunan harga komoditas ekspor seperti kelapa sawit yang turun 4,5% mtm dan batubara turun 3,4% mtm, sehingga akan menekan kinerja ekspor Indonesia dari sisi harga," jelas dia.

bps

Sementara dari sisi volume ekspor, lanjut Josua, diperkirakan tertahan oleh penurunan indikator aktivitas manufaktur mitra dagang utama Indonesia seperti Kawasan Euro, Amerika Serikat (AS), Jepang dan India.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal juga menilai neraca perdagangan akan mengalami defisit. Perkiraannya defisit bakal berada di rentang USD500 juta hingga USD1 miliar.

Dia menjelaskan, kondisi defisit itu dipicu kenaikan harga minyak dunia uang mendorong pelebaran defisit migas Indonesia. Selain itu, karena adanya pelemahan impor oleh negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia yakni China, AS, Eropa, Jepang, India.

"Juga didorong pelemahan harga komoditas andalan ekspor di pasar dunia, khususnya CPO (minyak kelapa sawit)," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini