
Sementara dari sisi volume ekspor, lanjut Josua, diperkirakan tertahan oleh penurunan indikator aktivitas manufaktur mitra dagang utama Indonesia seperti Kawasan Euro, Amerika Serikat (AS), Jepang dan India.
Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal juga menilai neraca perdagangan akan mengalami defisit. Perkiraannya defisit bakal berada di rentang USD500 juta hingga USD1 miliar.
Dia menjelaskan, kondisi defisit itu dipicu kenaikan harga minyak dunia uang mendorong pelebaran defisit migas Indonesia. Selain itu, karena adanya pelemahan impor oleh negara-negara tujuan utama ekspor Indonesia yakni China, AS, Eropa, Jepang, India.
"Juga didorong pelemahan harga komoditas andalan ekspor di pasar dunia, khususnya CPO (minyak kelapa sawit)," kata dia.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.