Geber Pembiayaan UMKM, RI Gagas APEC Impact Fund

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 April 2019 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 26 20 2048331 geber-pembiayaan-umkm-ri-gagas-apec-impact-fund-1beGMoWBRe.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Para pemimpin bisnis senior Asia Pasifik yang tergabung APEC Business Advisory Council (ABAC) sepakat untuk mendorong pembiayaan kepada para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Hal itu sejalan untuk menjadikan negara Asia Pasifik sebagai pusat ekonomi dunia.

Anggota ABAC Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, jika melihat tren perdagangan dunia saat ini, memang lebih mengarah kepada pelaku UMKM. Namun sayangnya, selama ini pelaku UMKM kesulitan mendapatkan akses permodalan dari bank.

"Jadi memang kalau kita lihat trade globalization tidak bisa dipungkiri. Bagaimana kita memperhatikan isu inklusifitas. Jadi ini semua bagaimana bisa lebih inklusif. Ini bagaimana bisa membantu kita lebih connecting," ujarnya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (26/4/2019).

 Baca Juga: Pengusaha se-Asia Pasifik Kumpul di Jakarta Bahas Ekonomi Dunia, Ini Hasilnya

Wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Apindo itu mengatakan, khusus untuk Indonesia sendiri akan mendorong peningkatan inklusifitas para wanita. Sebab selama ini kebanyakan para pelaku UMKM merupakan wanita alias ibu-ibu.

"Untuk mewujudkan itu semua, ABAC Indonesia memfokuskan agendanya di dalam pertemuan kali ini untuk mendorong peningkatan partisipasi perempuan di dalam ekonomi dan sistem finansial yang inklusif," kata Shinta.

Oleh karena itu, khusus untuk Indonesia akan mengembangkan APEC Impact Fund. Rencananya, APEC Impact Fund sendiri akan diluncurkan pada saat pertemuan ABAC di Santiago, Chile November mendatang.

"APEC Impact Fund yang merupakan inisiatif Indonesia juga sudah disepakati untuk terus didorong proses implementasinya. Dan ini akan menjadi PR kita untuk menyempurnakannya bersama UNDP dan meluncurkannya nanti saat Pertemuan ABAC IV di Santiago, Chile pada bulan November mendatang," katanya.

 Baca Juga: Presiden Jokowi hingga Sri Mulyani Bakal Ramaikan Pertemuan APEC Business Advisory Council

Sementara itu anggota ABAC Indonesia lainya Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, upaya mendorong peningkatan inklusif keuangan bertujuan untuk memastikan bahwa ekonomi bisa merata. Oleh karenannya, pihaknya akan mendorong layanan keuangan kepada masyarakat menengah kebawah agar lebih mengerti apa itu pentingnya tabungan, asuransi hingga dana pensiunan.

"Ekonomi inklusif juga penting untuk memastikan distribusi kekayaan dapat disebarkan secara merata. Oleh karena itu, ABAC Indonesia juga mendorong akses yang lebih luas untuk layanan keuangan seperti tabungan, asuransi, pensiun dan pembayaran non-tunai di mana hal tersebut saling melengkapi," katanya.

Pria yang menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri itu juga menyebut jika inklusi keuangan masyarakat Indonesia sangat berkembang pesat. Merujuk laporan World Bank Global Findex 2017, Pada tahun 2017 Indonesia mengalami kemajuan paling pesat dalam mendorong akses inklusi keuangan dari 20% di tahun 2011 menjadi 49%pada 2017.

Hal tcrsebut didorong oleh program pengentasan kemiskinan pemerintah melalui jalur non-tunai. Namun hal itu juga menyimpan berbagai macam catatan yang harus diperbaiki lagi.

Bank Mandiri juga mendukung program tersebut dengan menyalurkan Rp3,2 triliun dalam Program Keluarga I Iarapan (PKI I) dan 17,6 triliun rupiah dalam berbagai program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini